Kepala Dina Pendidikan Kabupaten Kotim, M Irfansyah saat nobar Film Ternyata Aku Korban. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)
SB, SAMPIT – Suasana bioskop kecil di salah satu ruang aula di Sampit tampak berbeda. Puluhan siswa dari jenjang SD hingga SMP duduk menyimak, sesekali terlihat mengangguk, tertawa kecil, lalu terdiam serius. Mereka sedang menonton film pendek bertajuk "Ternyata Aku Korban", sebuah karya orisinal dari siswa SMAN 1 Sampit bersama MAN Kotim yang menyentuh tema sensitif namun penting: bullying di lingkungan sekolah.
Kegiatan nonton bareng (nobar) ini bukan sekadar hiburan. Dinas Pendidikan Kabupaten Kotawaringin Timur (Disdik Kotim) secara khusus mendukung dan mengapresiasi inisiatif tersebut.
Kepala Disdik Kotim, Muhammad Irfansyah, mengatakan bahwa film ini merupakan bentuk kepedulian nyata dari para pelajar terhadap isu sosial yang sering kali dianggap sepele, namun berdampak besar bagi korban.
“Kita mengapresiasi karena film pendek ini merupakan karya putra-putri daerah. Karya ini menjadi contoh yang bagus dan edukatif mengenai dampak bullying di sekolah,” ujarnya, Kamis (7/8/2025).
Cerita dalam film ini bukan hasil imajinasi semata. Penulis skenario menggambarkan kejadian-kejadian nyata yang terjadi di sekitar mereka. Kadang, bullying datang dalam bentuk lelucon yang tampak lucu bagi pelaku, tapi menghantam batin korban.
“Penulis cerita bilang bahwa inspirasi film ini berasal dari kejadian sehari-hari. Anak-anak kadang tidak sadar, niatnya hanya bercanda, tapi bahasanya bisa menyakiti mental temannya. Ini bisa bikin anak jadi sensitif, stres, bahkan melakukan hal-hal yang tak diinginkan,” jelas Irfansyah.
Tak hanya soal bullying antar sesama siswa, film ini juga membuka mata tentang bentuk perundungan dari siswa terhadap guru. Salah satu kisah nyata yang diangkat adalah perlakuan tidak menyenangkan yang diterima seorang guru hanya karena ia berasal dari luar daerah.
“Kami pernah menerima laporan seorang guru dibully oleh murid karena dianggap pendatang. Padahal, beliau hanya menjalankan tugas untuk menegur kesalahan,” tambahnya.
Lewat medium film, para pelajar diajak memahami berbagai bentuk bullying verbal, fisik, hingga cyberbullying. Mereka juga belajar bahwa semua tindakan itu bisa dicegah dengan satu kunci sederhana: saling menghormati.
Film ini tak hanya menyampaikan pesan moral, tapi juga menyentuh emosi dan membuat siswa berpikir dua kali sebelum berkata atau bertindak.
“Kami berharap kegiatan ini mampu menyadarkan siswa tentang bahaya bullying. Kami juga mengajak semua warga sekolah, baik guru maupun murid, menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan,” tutup Irfansyah penuh harap. (f1/sb)