seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Waspada! Buaya Berkeliaran Sekitar SDN Kunjung Lampuyang Terendam Banjir

by Redaksi - Tanggal 16-10-2025,   jam 07:45:23
Kondisi banjir merendam SDN Kunjung Lampuyang. (FOTO:ISTIMEWA) Kondisi banjir merendam SDN Kunjung Lampuyang. (FOTO:ISTIMEWA)

SB, SAMPIT - Kemunculan seekor buaya di tengah banjir besar dekat Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kunjung Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), yang tidak jauh dari oemukan warga.

Namun pihak sekolah memastikan hewan tersebut tidak masuk ke lingkungan sekolah, melainkan hanya terlihat di sungai yang berada tepat di depan sekolah.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, mengatakan pihaknya menerima informasi dari warga yang melihat seekor buaya besar melintas di sungai yang berjarak tidak jauh dari halaman sekolah.

“Empat hari yang lalu ada buaya lewat di sungai depan sekolahan kami. Ada orang warung sekitar yang melihat langsung. Ukurannya lumayan besar, sekitar tiga depa atau lebih dari tiga meter,” ungkap seorang warga yang menceritakan kejadian itu kepada Multazam, Kamis (16/10/2025).

Mendengar laporan itu, pihak sekolah segera memasang papan pembatas di area depan untuk mengantisipasi kemungkinan buaya naik ke lapangan sekolah.

“Makanya sebelah depan sekolah dipasangi papan jaga-jaga kalau naik ke lapangan,” katanya.

Ia menambahkan, banjir rob memang rutin terjadi di SDN Kunjung Lampuyang setiap kali air laut pasang. Namun, keberadaan hewan predator di sekitar lokasi kini menjadi perhatian serius.

“Kami khawatirkan cerita terakhir dari penduduk setempat tentang adanya hewan predator di sekitar situ. Karena itu kami langsung berkoordinasi dengan camat dan akan ke lokasi untuk melakukan kaji cepat.

Kepala SDN Kunjung Lampuyang, Endra Wijaya saat ini kondisi sekolah sedang kebanjiran akibat banjir rob, yaitu naiknya permukaan air laut ke daratan saat air pasang bersamaan dengan turunnya hujan deras. 

Dalam satu bulan terakhir, banjir sudah dua kali merendam sekolah, bahkan air sempat masuk hingga ke ruang kelas.

“Sudah lama, kalau air pasang dan hujan, pasti sekolah kami kebanjiran. Dalam kurun waktu satu bulan ini sudah dua kali. Airnya sudah masuk ke ruang kelas,” ungkapnya.

Menurutnya, pihak sekolah sudah berupaya memasang papan pembatas air untuk meminimalisir dampak banjir dan potensi bahaya bagi siswa. Namun karena keterbatasan anggaran, langkah itu belum bisa dilakukan secara maksimal.

“Kami juga selalu mengingatkan siswa agar tidak mendekati aliran sungai di depan sekolah. Guru-guru pun lebih ekstra menjaga agar anak-anak aman,” ujarnya.

Endra berharap pemerintah dapat memberikan bantuan berupa penimbunan dan rehabilitasi ruang kelas, mengingat lokasi sekolah yang berada di dataran rendah serta banyak ruang belajar yang kini rusak akibat banjir.

“Proposal sudah kami ajukan ke dinas, tapi belum rezekinya kami dapat bantuan. Mudah-mudahan ke depan bisa diprioritaskan untuk penimbunan dan rehab ruang kelas,” harapnya. (f1/sb)