Tim pelajar asal Kalteng ketika mengikuti ajang International Science and Invention Fair di Bali. (FOTO:ISTIMEWA)
SB, PALANGKA RAYA – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh pelajar Kalimantan Tengah (Kalteng) di kancah internasional. Dalam ajang International Science and Invention Fair (ISIF) 2025 yang diselenggarakan Indonesia Young Scientist Association (IYSA) di Bali pada 11-15 November 2025, tim dari Kalteng berhasil menyabet tiga medali emas.
Capaian ini sekaligus memecahkan rekor karena seluruh tim yang dikirim meraih medali emas. Prestasi tersebut tidak hanya membanggakan sekolah dan orang tua para peserta, tetapi juga masyarakat Kalimantan Tengah, mengingat kompetisi ini merupakan ajang bergengsi internasional yang diikuti 27 negara.
ISIF mempertandingkan berbagai kategori, mulai dari lingkungan, kesehatan, teknologi, matematika, hingga inovasi ilmiah lainnya.
Guru pendamping, Helita, menjelaskan bahwa total peserta dari Kalteng berjumlah 16 siswa, terdiri dari 14 siswa SMAN 2 Palangka Raya dan 2 siswa SMAN 3 Palangka Raya.
1. Tim Pertama – “Hoya-Herbal Hair Tonic”
Anggota Sintong Albert Nicodeus Doloksaribu, Raeni Dwijayanti, Brigita Cahyani Cesaria, Kezia Surya Atalia, dan Nazliafiva Zulfadya.
Inovasi: Pemanfaatan ekstrak daun hoya (Hoya parasitica) sebagai tonik herbal untuk perawatan dan penumbuhan rambut.
2. Tim Kedua – “Analeptics Product Based on Bajakah Hatue”
Anggota: Crisnatha Gavrilano Putra, Jericho Otniel Maylando Bungai, Netanya Ebigail Tarigan, Gavrila Ivena Cereliase, dan Keyzia Aprilia.
Inovasi: Produk berbasis tanaman bajakah sebagai anti kanker payudara dan kanker getah bening.
3. Tim Ketiga – “San Koetjape Cortex Tea”
Anggota Wynona Anneliese Winterbeng, Christy, Beatrix Fuji Emmanuella Putri Kamida, Hillary Natasha Saconk, Devita Aurelia Zefanya, dan Puttri Candra Kirana.
Inovasi: Teh herbal dari kulit buah ketapi (Sandoricum koetjape) sebagai obat alami untuk wasir.
Helita, yang juga menjabat sebagai CBSO (Central Borneo Scientific Organization), mengungkapkan bahwa keberhasilan ini menjadi bukti bahwa siswa Kalteng mampu bersaing di ajang ilmiah internasional melalui inovasi berbasis potensi lokal.
“Memang tidak mudah untuk bersaing, namun kita membuktikan bahwa Kalteng berhasil membawa tiga medali emas dari tiga tim. Yang kita tonjolkan adalah kearifan lokal, seperti penggunaan ekstrak daun hoya, bajakah, dan kulit pohon ketapi,” ujarnya, Jumat (20/11/2025).
Keikutsertaan dan kemenangan di ISIF 2025 menunjukkan bahwa kreativitas dan riset ilmiah di kalangan pelajar Kalteng terus berkembang. Prestasi tersebut diharapkan menjadi pemicu semangat bagi sekolah lainnya untuk terus berinovasi dan mengikuti kompetisi nasional maupun internasional.
Helita menambahkan bahwa seluruh peserta telah melewati proses seleksi sebelum diberangkatkan, dan keberangkatan mereka dibiayai secara mandiri. Meski demikian, para orang tua memberikan dukungan penuh karena kompetisi ini berlangsung di tingkat internasional.
Raihan medali emas ini diharapkan dapat semakin mendorong pelajar Kalteng untuk terus mengembangkan riset inovatif berbasis potensi lokal dan berani tampil di panggung global. (sb)