Kepala Kementerian Haji dan Umroh Kabupaten Kotim, Tiariyanto
SB, SAMPIT - Kepala Kementerian Haji dan Umroh Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Tiariyanto memastikan jemaah umroh asal Kotim yang saat ini berada di Tanah Suci dalam kondisi aman di tengah meningkatnya tensi konflik antara Amerika Serikat–Israel dan Iran di kawasan Timur Tengah.
“Untuk sampai saat ini memang belum ada informasi bahwa jemaah Kotim yang berangkat umroh itu tertahan di Mekkah ataupun Madinah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, saat ini terdapat 40 jemaah asal Kotim yang masih berada di Arab Saudi. Mereka berangkat pada 22 Februari dan dijadwalkan kembali ke Indonesia pada 4 Maret 2026.
“Sebanyak 40 jemaah menggunakan travel DHS. Laki-laki 22 orang dan perempuan 18 orang. Mereka tidak tertahan ataupun terjebak,” jelasnya.
Tiariyanto menyebutkan, informasi tersebut diperoleh dari laporan biro travel yang terdaftar dan melapor resmi ke Kementerian Haji dan Umroh melalui sistem aplikasi Siskopatu.
“Kemarin sudah kita konfirmasi dan sampai saat ini tidak ada penundaan,” katanya.
Ia menambahkan, jemaah tersebut menggunakan penerbangan langsung dari Jeddah ke Indonesia tanpa transit di negara-negara yang terdampak konflik.
“Karena mereka menggunakan maskapai yang langsung dari Jeddah ke Indonesia dan tidak transit di negara-negara yang sedang berkonflik,” tegasnya.
Meski demikian, ia mengakui terdapat imbauan dari Kementerian Haji pusat melalui Wakil Menteri agar calon jemaah yang belum berangkat mempertimbangkan penundaan perjalanan hingga situasi di Timur Tengah kembali normal.
Terkait kemungkinan pembatalan keberangkatan, Tiariyanto menyatakan hingga kini belum ada laporan dari biro travel berizin di Kotim mengenai hal tersebut.
“Dari biro travel yang berizin di Kotim ini belum ada informasi untuk pembatalan. Jadi kami juga belum menerima laporan terkait itu,” katanya.
Ia menambahkan, Di Kotim sendiri terdapat 13 biro travel umroh berizin, namun hanya dua yang rutin melaporkan keberangkatan jemaah secara berkala. Meski begitu, seluruh travel wajib menginput data melalui sistem Siskopatu sebelum keberangkatan.
“Kalau di Siskopatu tidak terisi, maka jemaah tidak bisa berangkat. Itu sudah menjadi ketentuan,” jelasnya.
Untuk data keberangkatan, Tiariyanto menyebut pada tahun 2025 tercatat sebanyak 216 jemaah haji asal Kotim. Sementara untuk jemaah umroh, jumlahnya mencapai lebih dari seribu orang dalam setahun.
“Kalau umroh dalam setahun itu lebih dari seribu. Misalnya satu travel saja bisa memberangkatkan 150 sampai 200 orang dalam satu kali keberangkatan,” pungkasnya. (f1/SB)