seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

DPRD Kotim Dorong Pembentukan Lembaga Sosial Tangani Prilaku Remaja

by Redaksi - Tanggal 19-04-2026,   jam 01:36:02
DPRD Kotim Fraksi PKS, Suprianto

SB, SAMPIT - Anggota DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Suprianto, mendorong adanya pembentukan lembaga berbasis masyarakat yang secara khusus menangani individu dengan perilaku menyimpang melalui pendekatan edukatif dan humanis.

Usulan tersebut disampaikan sebagai respons atas munculnya grup remaja di media sosial yang dinilai mengarah pada perilaku seksual menyimpang. Grup bernama “Gay ABG Sampit” itu bahkan telah dilaporkan ke Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) oleh Dinas Komunikasi dan Informatika setempat.

“Kalau menurut kami, perlu dibentuk lembaga pemberdayaan masyarakat atau semacam LSM yang fokus menangani orang-orang dengan perilaku seperti itu,” ujar Suprianto, Minggu (19/4/2026).

Menurutnya, fenomena tersebut tidak bisa hanya dipandang sebagai persoalan moral semata, tetapi harus dilihat sebagai masalah sosial yang membutuhkan penanganan serius dan terarah. Ia menilai, tanpa intervensi yang tepat, kelompok-kelompok tersebut berpotensi berkembang tanpa kontrol dan berdampak luas di masyarakat.

“Kalau kita lihat, kelompok seperti itu sebenarnya cukup rapuh. Tinggal bagaimana kita membangun kepedulian di lingkungan sekitar, jangan malah dipinggirkan atau dikucilkan tanpa pendekatan yang manusiawi,” tegasnya.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu juga menyoroti masih minimnya edukasi seksualitas di tengah masyarakat yang kerap dianggap sebagai hal tabu. Kondisi ini, menurutnya, menjadi salah satu pemicu munculnya perilaku menyimpang di kalangan remaja.

“Karena kita kurang memberi perhatian, terutama soal edukasi seksual yang masih dianggap tabu, akhirnya muncul fenomena seperti ini,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pembentukan lembaga khusus tersebut nantinya harus diiringi dengan evaluasi berkala agar program yang dijalankan benar-benar efektif. Selain itu, dukungan anggaran dan kebijakan dari pemerintah daerah juga dinilai penting untuk memastikan keberlanjutan program.

Namun demikian, Suprianto menekankan bahwa langkah utama saat ini adalah memperkuat edukasi dan mendorong lahirnya komunitas atau lembaga kecil di tingkat masyarakat.

“Yang kita inginkan sekarang adalah bagaimana memberikan edukasi dan membentuk lembaga-lembaga kecil yang fokus menangani persoalan ini,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya peran pemerintah daerah dalam menyikapi persoalan tersebut, mengingat dampaknya yang berkaitan langsung dengan masa depan generasi muda di Kotim.

“Jangan sampai kita ingin menciptakan generasi emas, justru berubah menjadi generasi cemas. Itu berbahaya,” pungkasnya. (f1/sb)