seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Maraknya Penggunaan Rokok Elektrik Jadi Atensi Khusus Dinkes Kotim

by Redaksi - Tanggal 19-04-2026,   jam 01:38:24
ILUSTRASI

SB, SAMPIT - Maraknya penggunaan rokok elektronik atau vape menjadi perhatian serius Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Fenomena ini dinilai semakin mengkhawatirkarı karena banyak diminati kalangan remaja yang menganggap vape lebih aman dibanding rokok biasa.

Melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Nugroho Kuncoro Yudho menegaskan bahwa anggapan tersebut keliru. la menyebutkan, vape tetap membawa dampak negatif terhadap kesehatan, terutama pada organ vital seperti paru-paru dan jantung.

"Jangan salah persepsi, rokok elektronik juga berisiko bagi kesehatan. Dampaknya tidak jauh berbeda dengan rokok konvensional," ujarnya, Sabtu (18/4/2026).

Menurutnya, peningkatan penggunaan vape di kalangan remaja dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari tampilan produk yang menarik, varian rasa yang beragam, hingga anggapan bahwa uap yang dihasilkan lebih aman. Bahkan, pengguna kini tidak hanya didominasi remaja laki-laki, tetapi juga perempuan.

Kondisi ini membuat tren vape semakin meluas di kalangan anak muda. Sensasi rasa yang bervariasi dan aroma yang dianggap lebih nyaman dibanding asap rokok menjadi daya tarik tersendiri.

Namun demikian, Dinkes mengingatkan bahwa efek kesehatan dari vape tidak bisa diremehkan. Dalam jangka pendek, pengguna berisiko mengalami gangguan pernapasan seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, serta iritasi saluran napas.

Selain itu, risiko infeksi seperti ISPA dan pneumonia juga meningkat. Dalam penggunaan jangka panjang, dampak yang lebih serius dapat terjadi, seperti peradangan paru hingga penurunan fungsi organ pernapasan.

Tidak hanya itu, penggunaan vape juga berpotensi memengaruhi sistem kardiovaskular dan memicu ketergantungan nikotin. Kandungan zat berbahaya dalam aerosol vape, termasuk logam berat dan bahan kimia beracun, turut memperparah risiko tersebut.

la juga menambahkan bahwa paparan zat kimia dari cairan vape dapat berdampak pada paru-paru, termasuk kemungkinan terjadinya penumpukan cairan, meski penelitian lebih lanjut masih terus dilakukan.

Terkait data kasus di Kotim, Dinkes menyebut belum ada pencatatan khusus yang mengaitkan penyakit secara spesifik dengan penggunaan vape, karena sistem pendataan masih bersifat umum.

Meski begitu, masyarakat diminta untuk lebih waspada dan tidak mudah terpengaruh tren, terutama bagi generasi muda agar lebih bijak dalam menjaga kesehatan.

"Kami mengimbau masyarakat agar tidak menganggap vape sebagai alternatif yang aman. Risiko jangka panjangnya tetap ada dan harus diwaspadai," tegasnya. (f1/sb)