Puluhan Desa Terendam Banjir, Akses Masyarakat Dialihkan Lewat Jalan Perusahaan
SB, SAMPIT - Banjir yang melanda wilayah Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mulai merendam puluhan desa dan memutus sejumlah akses jalan desa. Meski demikian, aktivitas masyarakat dan transportasi masih dapat berjalan melalui jalur alternatif milik perusahaan yang telah mendapat izin lintas.
Camat Mentaya Hulu, Edison mengatakan, pemerintah kecamatan telah berkoordinasi dengan pihak perusahaan untuk membuka akses sementara melalui jalan Pos 4 milik PT TASK guna menunjang mobilitas masyarakat selama banjir berlangsung.
“Jalan dari Kecamatan Mentaya Hulu masih bisa dilewati melalui jalan Pos 4 PT TASK. Sudah ada MoU dan izin lintas di situ, jadi masyarakat termasuk untuk kebutuhan darurat, kebutuhan pokok dan lainnya masih bisa lewat,” ujarnya, Senin (19/5/2026)
Ia menjelaskan, tidak ada pembatasan waktu bagi kendaraan masyarakat umum. Namun, untuk angkutan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit diberlakukan jadwal khusus.
“Kalau untuk angkutan TBS ada jamnya, siang antara pukul 10.00 sampai 12.00 WIB dan malam sekitar pukul 19.00 sampai 21.00 WIB,” katanya.
Edison menyebutkan, beberapa ruas jalan desa yang terdampak cukup parah di antaranya Jalan Desa Tanjung Jariangau, Desa Bawan, Kelurahan Kuala Kuayan, Desa Tangkarobah hingga Desa Tanjung Bantur. Bahkan sejumlah titik jalan dilaporkan putus akibat terendam banjir.
Ia menjelaskan, rumah warga sebagian besar masih aman karena masyarakat di sini sudah terbiasa menghadapi banjir dan banyak rumah dibuat model panggung.
Menurut Edison, banjir yang terjadi saat ini merupakan banjir kiriman dari wilayah hulu seperti Kecamatan Telaga Antang dan Antang Kalang. Kondisi tersebut diperparah karena Kecamatan Mentaya Hulu berada di pertemuan Sungai Wayan dan Sungai Mentaya.
“Meski di Mentaya Hulu tidak hujan, kalau di daerah hulu hujan kami tetap kena dampaknya. Biasanya di tempat lain dua sampai tiga hari surut, kalau di tempat kami bisa sampai satu minggu bahkan beberapa minggu,” jelasnya.
Ia menambahkan, ketinggian air hingga kini terus mengalami kenaikan sekitar 20 sentimeter dan banjir telah berlangsung kurang lebih satu minggu tanpa tanda-tanda surut.
Meski belum ada warga yang mengungsi, pemerintah kecamatan tetap meminta petugas kesehatan dan pihak terkait untuk bersiaga apabila kondisi memburuk.
“Kalau ada warga sakit dan lain sebagainya sudah ada solusi akses transportasi. Untuk pengungsian juga sudah disiapkan di dataran tinggi kecamatan jika sewaktu-waktu diperlukan,” katanya.
Selain infrastruktur jalan, banjir juga mulai berdampak pada fasilitas pendidikan. Sedikitnya tiga sekolah dasar terpaksa diliburkan sementara karena terendam banjir.
“SD yang berada di daerah rendah seperti di Desa Plangkong sudah terendam, jadi saya instruksikan untuk diliburkan sementara. Kalau SMP dan SMA masih aman karena berada di dataran tinggi,” ujarnya.
Di tengah musibah banjir, Edison menyebut ada fenomena unik yang terjadi di masyarakat. Warga justru memanfaatkan banjir untuk mencari ikan di sekitar jalan dan pemukiman yang tergenang.
“Biasanya masyarakat ramai mencari ikan seluang saat banjir. Kadang satu kali tangkap bisa dapat satu ember. Jadi di samping musibah, masyarakat juga merasa ada berkahnya,” tutupnya. (f1/sb)