Tampak kondisi videotron Museum Kayu Sampit dari depan.
SB, SAMPIT – Warga di sekitar kawasan Museum Kayu Sampit, Jalan Jenderal S Parman, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), sempat dibuat panik setelah sebuah videotron mengeluarkan percikan api dan asap, Senin (19/5/2026) pagi sekitar pukul 09.37 WIB.
Gangguan tersebut diduga dipicu korsleting listrik pada perangkat videotron yang berada di area terbuka. Beruntung, api tidak sampai membesar karena petugas Museum Kayu bergerak cepat memadamkan kobaran menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) sebelum tim pemadam kebakaran tiba di lokasi.
Petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kotawaringin Timur yang menerima laporan langsung menuju tempat kejadian guna memastikan situasi aman dan tidak ada potensi api kembali muncul.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kotawaringin Timur, Cok Orda Putra Legawa, mengatakan kerusakan utama terjadi pada panel dan motherboard videotron. Selain itu, beberapa komponen seperti modul dan power supply juga mengalami gangguan.
“Panel dan motherboard mengalami kerusakan, termasuk modul dan power supply. Tetapi semuanya sudah diperbaiki dan saat ini videotron sudah kembali menyala normal,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Meski penyebab pasti belum dapat dipastikan, dugaan sementara mengarah pada korsleting listrik pada perangkat elektronik tersebut.
“Masih dalam pengecekan, kemungkinan terjadi korsleting. Ini perangkat outdoor yang dirancang tahan panas dan hujan, namun kejadian seperti ini tentu menjadi evaluasi bersama,” katanya.
Pasca-insiden, pihak Diskominfo Kotim juga melakukan koordinasi dengan PLN Cabang Sampit guna memastikan sistem kelistrikan di lokasi aman dan meminimalkan risiko kejadian serupa.
Cok Orda menjelaskan, videotron di kawasan Museum Kayu dan Bundaran Forest City merupakan aset milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah. Sementara operasional dan pemeliharaannya turut dibantu oleh Diskominfo Kotim.
“Pengelolaan operasionalnya memang dibantu oleh kami agar perangkat tetap berjalan optimal,” jelasnya.
Ia menambahkan, proses perbaikan berlangsung cepat karena tim teknis di daerah sudah memiliki kemampuan menangani kerusakan videotron secara langsung tanpa harus menunggu penanganan dari luar daerah.
“Kalau ada kerusakan, tim teknis kami bisa langsung melakukan perbaikan di lapangan sehingga penanganannya lebih cepat,” pungkasnya. (f1/sb)