Lewati ke konten utama
Provinsi

Mahasiswa UNDA Sampit Didorong Melek Investasi untuk Hindari Jerat Investasi Bodong

Redaksi 24-06-2026, 12:21 WIB 2 menit baca
Rektor UNDA Sampit, Wendy Kesuma
Rektor UNDA Sampit, Wendy Kesuma

SB, SAMPIT - Universitas Darwan Ali (UNDA) Sampit terus mendorong mahasiswa untuk memahami investasi sejak dini sebagai bekal menghadapi tantangan ekonomi masa depan sekaligus melindungi diri dari maraknya penipuan berkedok investasi yang berkembang di era digital.

Rektor UNDA Sampit, Wendy Kesuma, mengapresiasi langkah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang memberikan edukasi kepada mahasiswa terkait pengelolaan keuangan dan investasi yang aman.

“Pertama saya mau mengucapkan terima kasih kepada OJK atas perhatiannya membina anak-anak mahasiswa kami. Di zaman sekarang anak-anak punya gaya hidupnya sendiri. Dengan adanya alternatif pilihan penghasilan melalui investasi, mereka memiliki pilihan yang lebih baik untuk masa depan. Yang terpenting jangan sampai mereka terjebak penipuan investasi yang saat ini marak terjadi,” ujar Wendy, Selasa (23/6/2026).

Menurut Wendy, tingkat literasi investasi generasi muda sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat mereka belajar dan bergaul. Mahasiswa yang berada di lingkungan yang memahami investasi umumnya memiliki pengetahuan yang lebih baik karena terbiasa berdiskusi dan mempelajari berbagai instrumen keuangan.

Ia menuturkan budaya investasi di lingkungan kampus terus berkembang. Bahkan, mahasiswa dari berbagai program studi mulai mengenal pasar modal melalui Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang tersedia di kampus.

“Ketika mahasiswa sudah merasakan sendiri manfaat investasi dan memahami ilmunya, mereka biasanya akan belajar lebih jauh secara mandiri. Karena itu kami mendorong budaya belajar investasi tidak hanya bagi mahasiswa, tetapi juga dosen dan karyawan,” katanya.

Wendy mengingatkan masyarakat, khususnya mahasiswa, agar waspada terhadap investasi bodong yang menjanjikan keuntungan tidak wajar dalam waktu singkat.

“Kalau ada yang menawarkan investasi dan menjanjikan uang bisa dua kali lipat dalam setahun atau bahkan lebih cepat, itu harus diwaspadai. Investasi yang benar biasanya memberikan keuntungan yang wajar. Saham saja rata-rata sekitar 15 sampai 20 persen per tahun. Jadi kalau ada yang menjanjikan 100 sampai 200 persen, kemungkinan besar itu investasi bodong,” tegasnya.

Di sisi lain, minat investasi di kalangan sivitas akademika UNDA terus menunjukkan peningkatan. Melalui Galeri Investasi BEI yang telah lama berdiri di kampus, nilai transaksi saham yang dilakukan mahasiswa dan alumni rata-rata mencapai Rp3 miliar setiap bulan.

“Rata-rata transaksi saham di UNDA sekitar Rp3 miliar per bulan. Ini dilakukan oleh mahasiswa maupun alumni yang sudah mendapatkan pembelajaran tentang investasi sebelumnya,” ungkap Wendy.

Bahkan, nilai transaksi tersebut pernah mencapai Rp6 miliar dalam satu bulan. Namun, saat kondisi pasar saham mengalami tekanan, aktivitas transaksi cenderung menurun sebagai bentuk kehati-hatian investor muda dalam mengelola risiko.

“Ketika IHSG sedang turun, transaksi mahasiswa juga ikut berkurang. Dari biasanya sekitar Rp3 miliar, pernah turun menjadi sekitar Rp200 juta per bulan. Ini menunjukkan mereka mulai berinvestasi secara bertanggung jawab dan memahami kondisi pasar sebelum mengambil keputusan,” jelasnya.

Wendy menambahkan, UNDA lebih fokus mengenalkan investasi saham dibandingkan instrumen berisiko tinggi seperti aset kripto maupun perdagangan valuta asing. Menurutnya, saham lebih sesuai dijadikan sarana pembelajaran karena memiliki risiko yang lebih terukur.

“Kami tidak mengajarkan kripto ataupun bitcoin karena volatilitasnya terlalu besar. Banyak orang mengalami kerugian karena risikonya tinggi. Fokus kami pada saham dan manajemen risiko agar mahasiswa memahami cara berinvestasi yang sehat,” pungkasnya (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard