Tampak kobaran api terus membesar membakar lahan di wilayah Kabupaten Kotim. (FOTO: ISTIMEWA)
SB, SAMPIT – Situasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kembali memburuk. Dalam sehari, jumlah titik panas (hotspot) melonjak drastis dari 14 menjadi 62 titik, memicu sedikitnya delapan kejadian kebakaran di sejumlah wilayah.
Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim, Rihel, mengatakan lonjakan hotspot yang terjadi hingga Selasa (4/8/2026) menjadi peringatan serius karena berpotensi memperluas kebakaran jika tidak segera dikendalikan.
"Hotspot hari ini mencapai 62 titik, sedangkan sehari sebelumnya hanya 14 titik. Bersamaan dengan itu, kami menangani delapan lokasi kebakaran," ujarnya, Rabu (5/8/2026).
Kebakaran terjadi di Jalan Jenderal Sudirman Km 23, belakang SMAN 4 Km 5, Jalan Tjilik Riwut Km 7, Graha Pramuka, Sangga Buana, MT Haryono Barat, Pelita Barat, dan Bumi Raya. Sementara itu, Desa Camba juga menjadi perhatian karena terdeteksi sekitar 20 hotspot dalam satu kawasan.
Rihel mengungkapkan, proses pemadaman tidak berjalan mudah. Petugas harus menghadapi medan yang sulit, sumber air yang jauh, serta keterbatasan armada ketika beberapa kebakaran muncul dalam waktu bersamaan.
"Armada kami hanya enam unit, sementara titik kebakaran mencapai delapan bahkan lebih. Sumber air juga jauh sehingga harus bolak-balik, ditambah angin kencang membuat api cepat meluas," jelasnya.
Saat ini lebih dari 50 personel gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni, KPHP, dan instansi terkait dikerahkan ke lapangan. Namun jumlah tersebut dinilai belum ideal apabila kebakaran terus bertambah.
"Kalau kondisi terus seperti ini, kebutuhan personel bisa mencapai 100 orang agar ada pergantian saat bertugas. Delapan jam di lapangan sudah sangat menguras tenaga," katanya.
Untuk memperkuat penanganan, Satgas akan menggandeng perusahaan di Kotim agar membantu menyediakan truk tangki air beserta pengemudinya. Pemerintah juga berencana membangun embung di kawasan rawan kebakaran sebagai cadangan air saat musim kemarau.
Di sisi lain, permohonan bantuan water bombing telah diajukan melalui Pemerintah Provinsi Kalteng kepada BNPB. Namun hingga kini bantuan tersebut belum beroperasi di Kotim karena masih diprioritaskan di wilayah lain.
Selain itu, upaya hujan buatan yang dilakukan tim provinsi juga belum membuahkan hasil maksimal akibat minimnya awan hujan dan kondisi angin yang cukup kencang.
"Kami berharap bantuan water bombing segera digeser ke Sampit agar penanganan karhutla bisa lebih maksimal," tutup Rihel. (f1/sb)