Lewati ke konten utama
HUKUM

Order Ojol Berujung Tawaran Seksual Rp150 Ribu

Redaksi 09-10-2026, 10:14 WIB 2 menit baca
Mediasi antar driver ojol dan customer atas pesanan menyimpang dari costumer saat memesan layanan grabbike, Kamis (8/10/2026). (FOTO: ISTIMEWA)
Mediasi antar driver ojol dan customer atas pesanan menyimpang dari costumer saat memesan layanan grabbike, Kamis (8/10/2026). (FOTO: ISTIMEWA)

SB, PALANGKA RAYA – Niat seorang driver ojek online (ojol) mencari penumpang berubah menjadi pengalaman tak biasa. Melalui fitur percakapan aplikasi, customer yang memesan layanan GrabBike diduga mengajaknya melakukan aktivitas seksual dengan iming-iming uang Rp150 ribu.

Pesan tersebut sontak membuat sejumlah driver ojol di Palangka Raya resah. Isi percakapan kemudian beredar di kalangan pengemudi hingga salah seorang driver memutuskan mendatangi lokasi customer di kawasan Jalan Ir Soekarno, Kamis (8/10/2026) pagi.

Customer diketahui berada di sebuah rumah kos. Sejumlah driver ojol kemudian mendatanginya untuk meminta penjelasan sekaligus memberikan teguran. Situasi sempat memanas dan terjadi cekcok, tetapi tidak sampai terjadi tindakan kekerasan.

Ketua DPW Asosiasi Ojol Nusantara (AON) Kalteng, Gandy Setiawan alias Bang Gandos mengatakan, informasi tersebut pertama kali diketahui komunitas ojol sekitar pukul 05.00 WIB. Driver yang mendapat pesan merupakan mitra Grab yang saat itu berada di basecamp ojol di kawasan Jalan G Obos.

“Menurut informasi yang kami terima di grup sekitar pukul 05.00 WIB tadi, ada salah satu anggota ojol Palangka Raya, yakni mitra Grab, yang mendapatkan orderan GrabBike. Customer tersebut kemudian menghubungi driver melalui chat dan menawarkan sejumlah uang, intinya mengajak melakukan tindakan yang bersifat seksual dengan imbalan Rp150 ribu,” kata Gandos.

Gandos menegaskan, pihaknya meminta para driver tetap menahan diri dan tidak menyelesaikan persoalan dengan cara kekerasan. Setelah didatangi, customer tersebut akhirnya dibawa ke Polresta Palangka Raya untuk menyelesaikan persoalan melalui jalur yang lebih tertib.

“Setelah mengetahui adanya orderan dan chat tersebut, salah satu driver berinisiatif mendatangi lokasi customer untuk memberikan teguran. Sempat terjadi cekcok, tetapi tidak sampai terjadi kekerasan. Saya juga sudah mengingatkan teman-teman di lapangan agar tidak terpancing emosi dan tidak menggunakan kekerasan,” tegasnya.

Di Polresta Palangka Raya, persoalan tersebut kemudian dimediasi Unit Reskrim bersama Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA). Dalam proses mediasi, customer disebut mengakui kesalahannya, menyampaikan permintaan maaf, serta membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya.

Gandos mengatakan, dirinya juga sempat bertemu langsung dengan customer tersebut. Ia meminta agar para driver ojol tidak diganggu ketika sedang menjalankan pekerjaan, terlebih kondisi kabut asap turut memengaruhi pendapatan pengemudi.

“Saya sempat bertemu langsung dengan yang bersangkutan pagi tadi. Saya sampaikan agar jangan mengganggu kami ketika sedang bekerja. Apalagi dalam kondisi kabut asap seperti sekarang, orderan juga sedang sulit. Kami bekerja untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga di rumah,” ungkapnya.

Sementara itu, customer yang disebut sebagai oknum BOTI tersebut menyampaikan permintaan maaf melalui sebuah video. Ia mengaku khilaf dan berjanji tidak kembali menyampaikan ajakan serupa saat menggunakan layanan ojol. 

“Saya juga khilaf dan secara tidak sengaja dalam pikiran saya terlintas yang tidak senonoh,” ujarnya.

Ia juga berjanji menggunakan layanan ojol sebagaimana mestinya, baik untuk kebutuhan transportasi maupun memesan makanan. 

“Jika di kemudian hari atau setiap saya order ojol, saya berjanji tidak akan membuat ajakan seperti itu lagi, tapi saya order ojol untuk transportasi atau saya beli makan itu diterima aja,” tutupnya. (rk/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard