Berharap Hujan Hilangkan Karhutla dan Asap
KATA-KATA tersebut seakan menandakan masyarakat mulai pasrah dan menerima dengan keadaan kabut asap pekat, akibat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Sebab kabut asap khususnya di Kota CANTIK Palangka Raya sudah berlangsung berbulan-bulan, namun belum ada tanda-tanda akan berakhir dan beberapa hari ini semakin parah, bahkan kabut asap hingga malam hari.
Masyarakat harus berjuang melawan kabut asap dan terpaksa terhirup, apalagi yang beraktivitas di luar ruangan. Matahari sudah lama tidak terlihat dan kondisi kota seakan gelap, karena kabut asap pekat.
Berbagai upaya dilakukan pemerintah pusat dan daerah, mulai terjunkan helikopter waterbombing, juga menerjunkan personil, baik TNI, Polri, BNPB, BPBD bersama relawan untuk memadamkan api melalui jalur darat. Namun Karhutla makin tidak terkendali dan asap pekat masih terjadi hingga Sabtu (10/10/2026).
Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sudah berkunjung langsung ke Kota Palangka Raya melihat kondisi Karhutla, bahkan Menteri juga pejabat penting negeri ini silih berganti datang. Namun belum ada kejelasan apakah ini bencana daerah, atau bencana nasional atau hanya....
Kucuran dana untuk penanganan Karhutla diduga mencapai ratusan miliaran, perjuangan petugas dilapangan sudah luar biasa, bahkan melawan rada lelah jadi patut diapresiasi. Muncul pertanyaan apa yang salah, karena Karhutla masih terjadi yang asapnya tidak habis-habis.
Dampaknya bukan hanya membuat penerbangan lumpuh, ekonomi terhambat, ada harta benda yang ikut terbakar, satwa yang terdampak, tapi ada jutaan manusia yang kesehatannya terancam akibat menghirup asap dari Karhutla, salah satunya dibuktikan dengan meningkat penderita ISPA di Kalteng.
Pemberitaan di stasiun televisi, media online, media cetak, dan media sosial tidak berhenti masalah Karhutla ini. Begitu luar biasanya masyarakat Kalteng yang berjuang dan terpaksa melawan asap dalam aktifitas sehari-hari.
Melihat keadaan demikian, seakan celetuk masyarakat HANYA HUJAN saja yang bisa memadamkan Karhutla, dan mengusir asap, bisa dianggap pembenaran.
Dimana prakiraan hujan akan terjadi akhir Oktober 2026 dan semoga saja doa kita bersama itu terjadi, agar asap hilang. Sehinga kita semua terbebas dari menghirup asap yang dirasakan setiap hari selama berbulan-bulan.
Harapan besar masyarakat di Kalteng untuk kedepan pemimpin bangsa ini, dan pemimpin daerah memikirkan secara matang, agar Karhutla menimbulkan kabut asap pekat tidak terjadi yang dampaknya sangat besar.
Semoga pemerintah pusat sampai daerah melalui pemimpin, sekali lagi memikirkan nasib jutaan masyarakat Kalteng terimbas Karhutla ini. (*)
Catatan Redaksi Seputarborneo.com