Lewati ke konten utama
Provinsi

ISPU Sampit Tembus 1.270, Kabut Asap Makin Parah

Redaksi 19-10-2026, 10:23 WIB 3 menit baca
Tampak kondisi kabut asap masih menyelimuti Kota Sampit. (FOTO:SEPUTAR  BORNEO)
Tampak kondisi kabut asap masih menyelimuti Kota Sampit. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT – Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, berada dalam kondisi mengkhawatirkan. Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Kota Sampit dengan pekat, membuat jarak pandang merosot hingga sekitar 100 meter. Lebih mengkhawatirkan lagi, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) untuk parameter PM10 menembus angka 1.270, masuk kategori berbahaya, Senin (19/10/2026) pagi.

Data aplikasi ISPUnet Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) mencatat, ISPU PM10 mencapai 1.270 pada pukul 07.00 WIB. Sementara itu, ISPU untuk parameter PM2,5 juga berada pada angka sangat tinggi, yakni 713.

Angka tersebut menjadi peringatan serius bagi masyarakat karena paparan partikel pencemar dari asap dapat menimbulkan dampak kesehatan. Dalam kondisi seperti ini, mengurangi aktivitas di luar ruangan menjadi langkah penting untuk membatasi paparan udara yang tercemar.

Kabut asap yang menyelimuti Sampit tidak hanya mengganggu jarak pandang, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat. Udara pada pagi hari terasa menyesakkan, sementara mata perih menjadi salah satu keluhan yang muncul ketika kabut asap semakin pekat.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H. Asan Sampit mencatat jarak pandang pada pukul 07.00 WIB hanya sekitar 100 meter. Pada waktu yang sama, kecepatan angin tercatat 0 kilometer per jam.

Kondisi tersebut membuat kabut asap menjadi perhatian serius, terlebih ketika masyarakat mulai beraktivitas pada pagi hari.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim, Gusti Mukafi, menjelaskan bahwa angka ISPU dapat berubah mengikuti kondisi lingkungan dan tingkat kepekatan asap di suatu waktu.

“ISPU tergantung kepekatan asapnya. Jadi berubah-ubah, kadang pagi jam 06.00 atau jam 07.00 bisa berubah lagi,” katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kondisi kualitas udara perlu dipantau secara berkala. Meski angka ISPU dapat berubah, masyarakat tetap perlu waspada selama kabut asap masih menyelimuti wilayah Sampit.

Di tengah kondisi udara yang tercatat berbahaya, aktivitas masyarakat di sejumlah ruas jalan raya masih berlangsung. Kendaraan tetap berlalu-lalang, termasuk pelajar yang berangkat menuju sekolah.

Situasi ini menjadi perhatian karena masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan berpotensi terpapar partikel pencemar dari asap, terutama ketika kondisi udara sedang memburuk.

Gusti Mukafi mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan menggunakan masker ketika terpaksa beraktivitas di luar ruangan.

“Kami mengimbau masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan, untuk mengurangi paparan partikel berbahaya dari asap,” imbaunya.

Selain menggunakan masker, masyarakat diharapkan membatasi kegiatan di luar rumah selama kualitas udara masih berada pada tingkat berbahaya. Kelompok yang lebih rentan terhadap dampak pencemaran udara, seperti anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit jantung, perlu mendapat perhatian khusus.

Penggunaan masker yang sesuai juga penting untuk membantu mengurangi paparan partikel. Namun, langkah tersebut bukan pengganti upaya menghindari udara tercemar. Jika memungkinkan, masyarakat sebaiknya tetap berada di dalam ruangan dengan udara yang lebih bersih dan mengurangi aktivitas fisik berat.

Tingginya angka ISPU di Sampit kembali menegaskan pentingnya penanganan karhutla secara serius, disertai pemantauan kualitas udara dan penyampaian informasi yang cepat kepada masyarakat.

Selama kabut asap masih pekat, kewaspadaan perlu menjadi prioritas. Masyarakat diharapkan terus memantau informasi resmi kualitas udara dan mengikuti imbauan kesehatan guna mengurangi risiko paparan asap. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard