32 Brimob NTB Tambah Kekuatan Pemadaman Karhutla Kotim
SB, SAMPIT – Upaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mendapat tambahan dukungan dari luar daerah. Sebanyak 32 personel Brigade Mobil (Brimob) dari Nusa Tenggara Barat (NTB) dikerahkan untuk memperkuat operasi penanganan kebakaran yang masih berlangsung di wilayah tersebut.
Kehadiran personel tambahan ini membuat total kekuatan penanganan karhutla di Kotim mencapai sekitar 480 orang. Dukungan tersebut diharapkan membantu memperkuat operasi pemadaman, khususnya di kawasan hutan yang sulit dijangkau dan memiliki keterbatasan sumber air.
Bupati Kotim Halikinnor menyampaikan, jumlah personel yang tersedia saat ini pada dasarnya sudah cukup memadai. Namun, tantangan di lapangan masih besar karena petugas harus menjangkau titik api yang berada jauh di dalam hutan.
“Untuk personel sebenarnya kita cukup. Kita juga baru mendapat tambahan dari Brimob NTB sebanyak 32 orang. Hanya saja, kesulitan kita adalah jangkauan yang bisa puluhan kilometer masuk ke hutan, dan yang paling utama adalah titik air,” kata Halikinnor, Senin (19/10/2026).
Menurutnya, tambahan personel Brimob NTB menjadi bagian dari penguatan upaya pemadaman. Meski begitu, keberhasilan penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada jumlah petugas, tetapi juga kemudahan menjangkau lokasi dan tersedianya pasokan air untuk memadamkan api.
Halikinnor menjelaskan, penanganan karhutla di kawasan perkotaan relatif lebih mudah karena sumber air lebih mudah diperoleh. Dukungan sekitar 38 unit pelaksana teknis (UPT) yang dikerahkan turut membantu kelancaran operasi pemadaman.
Sebaliknya, kondisi di Desa Camba, Kecamatan Ketapang, dan Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, jauh lebih menantang. Lokasi kebakaran berada jauh di dalam kawasan hutan, sementara akses menuju titik api terbatas dan sumber air sulit ditemukan.
Khusus di Ganepo, posisi kebakaran yang berada di seberang Sungai Mentaya membuat upaya menjangkau lokasi melalui jalur darat semakin sulit.
“Kalau di perkotaan, penanganannya bisa lebih efektif karena pasokan air lebih mudah. Tetapi di Camba dan Ganepo, lokasinya jauh masuk hutan dan sumber air juga tidak tersedia. Itu yang menjadi kendala kita sekarang,” ungkapnya.
Kondisi tersebut membuat tambahan personel perlu diikuti strategi pemadaman yang sesuai dengan medan. Petugas harus mampu menjangkau titik api sekaligus memastikan kebutuhan air tersedia agar upaya pengendalian kebakaran berjalan efektif.
Untuk mengatasi sulitnya akses ke sejumlah titik kebakaran, Pemkab Kotim berharap dukungan pemadaman melalui metode water bombing atau penyiraman air dari udara dapat dilakukan.
Langkah tersebut diharapkan membantu menjangkau kawasan yang sulit diakses petugas dari darat. Pemerintah daerah juga berharap hujan dengan intensitas tinggi segera turun untuk membantu memadamkan api yang masih bertahan di kawasan hutan.
Dengan bergabungnya 32 personel Brimob NTB, kekuatan penanganan karhutla di Kotim kini mencapai sekitar 480 orang. Pemkab berharap tambahan dukungan ini dapat memperkuat upaya pemadaman, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kesulitan tinggi.
Meski demikian, keterbatasan sumber air dan akses menuju titik api masih menjadi pekerjaan utama. Dukungan personel, peralatan, serta strategi yang tepat diharapkan dapat membantu mempercepat pengendalian karhutla di Kotim. (f1/sb)