Lewati ke konten utama
DPRD Kotawaringin Timur

Awasi Ketersediaan Gas Melon dan Standar HET

Redaksi 04-05-2023, 11:26 WIB 1 menit baca
Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kotim, H Ary Dewar saat ditemui di ruang komisi, beberapa waktu lalu. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)
Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kotim, H Ary Dewar saat ditemui di ruang komisi, beberapa waktu lalu. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT – Masyarakat Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) keluhkan susahnya untuk mendapatkan elpiji 3 kilogram, khususnya masyarakat yang berada di wilayah perdesaan atau luar Kota Sampit.

Karena setiap mau membeli gas melon di pangkalan selalu habis, sedangkan harga dieceran atau warung hampir dua kali dari HET, yaitu kisaran Rp 35.000 -  Rp 40. 000.

Hal ini pun mendapat sorotan dari anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kotim, H Ary Dewar.

Menurutnya, pemerintah daerah dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) setempat turun lapangan memastikan apakah gas elpiji subsidi benar-benar dirasakan oleh masyarakat yang membutuhkan, sehingga ini perlu pengawasan dari Satgas.

“Elpiji 3 kilogram ini kan jelas-jelas untuk masyarakat kurang mampu makanya disubsidi oleh pemerintah, namun masyarakat di wilayah perdesaan sangat kesusahan untuk mendapat dan harganya pun tergolong mahal dari HET,” jelas legislator Gerindra tersebut, Kamis (4/5/2023).

Ia pu berharap, untuk kuota pangkalan di wilayah bisa ditambahkan karena kebutuhan masyarakat terus bertambah, sebab setiap masih banyak masyarakat belum kebagian setiap gas melon tersebut datang mereka tidak kebagian dan terpaksa membeli di pengecer dengan harga jauh dari HET.

“Sekali lagi saya meminta kepada dinas terkait untuk serius mengawasi distribusi gas elpiji subsidi ini, karena banyak laporan masyarakat mereka hampir tidak kebagian setiap gas tersebut datang di pangkalan. Jangan sampai ada oknum bermain dalam penyaluran gas elpiji subsidi ini,” tukasnya. (sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard