Warga Desa Tongka, Kecamatan Gunung Timang, Kabupaten Barito Utara, mengusulkan empat situs bersejarah ke negara. Situs bersejarah itu memiliki potensi tinggi untuk menjadi objek wisata. (FOTO:WARGA DESA TONGKA)
SB, PALANGKA RAYA - Desa Tongka, Kecamatan Gunung Timang, Kabupaten Barito Utara, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) memiliki empat situs budaya bersejarah yang tersembunyi di hutan yang asri.
Desa yang jauh dari kota tersebut memiliki hak kelola berupa hutan desa yang bernama Hutan Desa Gunung Oke yang jauh dari pemukiman warga. Keempat cagar budaya yang memiliki potensi pariwisata itu merupakan objek diduga cagar budaya (ODCB).
Adapun keempat ODCB itu adalah Tanir, Nyeloi, Batu Gadur dan Pager Buah.
Ketua Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Gunung Oke Heti Piranata mengungkapkan, Hutan Desa Gunung Oke menyimpan potensi tersembunyi berupa keempat ODCB itu.
Jarak tempuh menuju Tanir sendiri sekitar 5,2 km, yaitu hanya bisa berjalan kaki menuju lokasi dari kampung Tongka. Letaknya masih satu hamparan dengan Nyeloi, gua sakral lainnya.
Sedangkan lamanya perjalanan mencapai empat jam. Karena cukup jauh dari pemukiman, jalurnya jarang dilewati. Selain itu, kondisi hutan di sekitarnya masih alami tak tersentuh aktivitas perladangan.
Heti menjelaskan, Tanir adalah nama dari sebuah liang atau gua. Di sini terdapat sebuah makam tua yang diduga warga milik tokoh pendiri Desa Tongka yang disebut Kerering.
Dan itu sejarah turun temurun yang ada di Desa Tongkat, diduga pemakaman dari tokoh pendiri Desa Tongkat.
Bukti keberadaan makam ini ditunjukan dengan adanya Kerering, bangunan terbuat dari kayu ulin tempat tulang-belulang disimpan.
“Kerering ini tidak diletakan di dalam liang. Peti kayu bertutup ini diletakan di tengah kedua tiang ulin yang mengusungnya sehingga berbentuk bagai gerbang di antara liang bebatuan,” jelasnya.
Sedangkan untuk Nyeloi, kata Heti, dikenal sebagai gua beracun. Perjalanan ke Nyeloi ditempuh dengan berjalan kaki kurang lebih selama empat jam dari kampung. Letaknya masih satu hamparan dengan Tanir, berada di area aliran Sungai Alar.
Nyeloi menjadi kepercayaan masyarakat desa percaya lumut-lumut berwarna hijau tua yang tumbuh di dinding bebatuan gua itulah yang menjadi sumber racun. Kisah ini diceritakan turun-temurun.
Untuk Batu Gadur sama seperti cagar budaya lainnya yaitu hanya berjalan kaki untuk sampai lokasi, karena hanya jalan setapak menuju lokasi selama empat jam.
Kemudian Objek adalah batu yang menyerupai bak air. Menurut kepercayaan masyarakat desa, air yang ada di dalam Batu Gadur tidak bisa kering bahkan pada saat musim kemarau sekalipun.
“Air yang ada di dalam batu ini juga dipercaya ajaib, sehingga objek ini menjadi dikeramatkan,” sebut Heti. Batu Gadur menjadi tempat untuk berdoa.
Pagar Buah merupakan susunan bebatuan di tengah Sungai Montallat, memiliki jarak 3,6 untuk menuju lokasi dan memakan waktu berjam-jam berjalan kami.
“Dalam bahasa Dayak Tewoyan, Pager Buah berarti Benteng Buaya. Nama ini dikenal dari legenda yang diceritakan turun-temurun kepada generasi di desa Tongka,” bebernya.
Sampai hari ini, Pager Buah menjadi salah satu objek yang sakral atau dikeramatkan. Lokasi itu kerap menjadi tempat bagi masyarakat setempat untuk membayar nazar atau hajat.
“Masyarakat kini menjadikan tempat ini sebagai lokasi mencari ikan atau memancing,” tuturnya. (*)