Lewati ke konten utama
Provinsi

Pasca Mencuat Utang Ratusan Miliar, RSUD Doris Sylvanus Cicil Utang Rp 73 M Gunakan Hasil Pendapatan

Redaksi 11-06-2025, 05:42 WIB 2 menit baca
Tampak pelayanan Farmasi di RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya. (FOTO:ISTIMEWA)
Tampak pelayanan Farmasi di RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya. (FOTO:ISTIMEWA)

SB, PALANGKA RAYA - RSUD dr Doris Sylvanus kembali menjadi pusat perhatian publik setelah kabar utang senilai Rp120 miliar dalam dua tahun terakhir mencuat ke permukaan. Rumah sakit rujukan terbesar di Kalimantan Tengah ini kini disorot tak hanya karena masalah keuangan, tetapi juga karena banyaknya keluhan warga soal kualitas pelayanan.

Viral di media sosial, warganet mengungkapkan beragam pengalaman tak mengenakkan saat berobat di RSUD Doris Sylvanus, dari antrean panjang hingga lambatnya penanganan pasien. Tak sedikit yang membandingkannya dengan rumah sakit swasta yang dianggap lebih cepat dan nyaman.

Menanggapi derasnya kritik, Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah, Suyuti Syamsul, menegaskan bahwa pelayanan memang menjadi perhatian, namun bukan satu-satunya faktor penyebab utang yang terjadi.

“Ya pastilah kita tidak bisa memungkiri, tapi itu juga bukan penyebab utama tentunya,” ujar Suyuti saat dikonfirmasi, Selasa (10/6/2025).

Menurutnya, pemerintah daerah telah mengambil sejumlah langkah untuk memperbaiki pelayanan dan mengatasi utang yang menumpuk. Evaluasi terhadap keluhan masyarakat terus dilakukan agar permasalahan serupa tak berulang.

“Kita sudah bagian dalam upaya mengatasi masalah itu ya. Jadi setiap keluhan itu kita coba evaluasi supaya tidak terjadi berikutnya,” jelasnya.

Suyuti juga meminta masyarakat memahami bahwa perbandingan antara rumah sakit milik pemerintah dan rumah sakit swasta tidak bisa disamaratakan, khususnya dari segi jumlah pasien yang dilayani setiap hari.

“Cuma berbeda dengan rumah sakit swasta, orangkan suka memandingkan dengan rumah sakit swasta. Cuma gampangnya saya bilang begini, kalau di rumah sakit swasta cuma mungkin 100 pasien sehari, kami bisa seribu, tentu kalau seribu antrean menjadi panjang,” tambahnya.

Lebih lanjut, Suyuti mengungkapkan bahwa sebagian besar utang rumah sakit sebenarnya telah dilunasi. Dari total Rp 120 miliar, saat ini tinggal tersisa Rp 47 miliar yang masih harus dibayar.

“Utang itu kita sudah selesaikan Rp 73 miliar, jadi tersisa 47 miliar. Setiap ada duit langsung kita bayar,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa pelunasan utang tidak menggunakan dana APBD, melainkan dari pendapatan internal rumah sakit.

“Kita membayar dari pendapatan rumah sakit, karenakan tidak boleh menggunakan APBD untuk utang, prelude harus dari pendapatannya,” jelas Suyuti. (sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard