Lewati ke konten utama
Pemkab Kotawaringin Timur

Pemkab Kotim Luncurkan Aplikasi SILARAS untuk Percepat Penurunan Stunting

Redaksi 20-06-2025, 03:37 WIB 2 menit baca
Bupati Kabupaten Kotim, Halikinnor ketika melucurkan aplikasi SILARAS. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)
Bupati Kabupaten Kotim, Halikinnor ketika melucurkan aplikasi SILARAS. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim), Halikinnor, resmi meluncurkan aplikasi SILARAS (Sistem Laporan Raport Dapur Sehat Atasi Stunting) dalam kegiatan Rembuk Stunting yang digelar di Ballroom Wella Hotel Sampit, Jumat (20/6/2025).

Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kolaborasi antarinstansi dalam rangka menurunkan angka stunting di Kabupaten Kotim.

Dalam sambutannya, Halikinnor menyebutkan bahwa penanganan stunting merupakan prioritas utama Pemkab Kotim. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, terdapat 2.543 balita stunting atau 19,61 persen dari total 12.966 balita yang diukur pada Bulan Timbang Desember 2024.

“Meski demikian, terjadi penurunan sebesar 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kita masih menunggu hasil resmi dari Kementerian Kesehatan,” ujar Halikinnor.

Berbagai upaya telah dilakukan, seperti program Grebek Stunting dengan pemberian susu dan telur kepada 2.167 balita, pemberian makanan tambahan untuk ibu hamil dan balita di 17 kecamatan, serta pengembangan program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) di 33 desa.

“Melalui rembuk stunting ini, saya berharap muncul inovasi baru dan kesamaan persepsi dalam penanganan stunting,” tambahnya.

Ia juga mendorong sinergi yang lebih erat antara perangkat daerah, pemerintah kecamatan, dan desa.

Peluncuran aplikasi SILARAS menjadi bagian dari strategi percepatan penurunan stunting. Aplikasi ini dirancang untuk mempermudah pelaporan kegiatan DASHAT, yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat untuk pemenuhan gizi seimbang berbasis kearifan lokal.

“SILARAS akan membantu memantau pelaksanaan dapur sehat, meningkatkan keterampilan masyarakat dalam menyiapkan makanan bergizi, dan mendorong kemandirian ekonomi keluarga,” jelas Halikinnor.

Ia juga menegaskan pentingnya intervensi dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.

“Ini adalah masa emas pertumbuhan dan perkembangan otak anak. Harus kita optimalkan,” tegasnya.

Sementara itu, Plt Kepala DP3AP2KB Kotim, Umar Kaderi, menjelaskan bahwa SILARAS merupakan bentuk modernisasi pelaporan, yang sebelumnya masih dilakukan secara manual.

“Dengan aplikasi ini, laporan akan lebih cepat dan akurat karena langsung diinput oleh koordinator lapangan,” katanya.

Namun Umar mengakui masih ada kendala teknis seperti akses internet di beberapa desa terpencil. Oleh karena itu, sistem manual tetap digunakan sebagai cadangan.

“Petugas bisa mencatat manual dulu, lalu input saat sudah masuk area dengan jaringan,” ujarnya.

Selain peluncuran aplikasi, Rembuk Stunting juga dimanfaatkan sebagai forum evaluasi dan penyusunan strategi ke depan. Umar menekankan pentingnya sinkronisasi antar-OPD, agar program yang dijalankan saling mendukung.

“Misalnya, Dinas A membangun sarana air bersih, Dinas B edukasi gizi. Semua harus terhubung agar hasil maksimal,” jelasnya.

Ia berharap semua pihak, termasuk swasta, memiliki visi dan komitmen yang sama untuk menciptakan generasi sehat, cerdas, dan berkualitas di Kotim.

“Penanganan stunting bukan tugas satu instansi, tapi kerja bersama. Kita ingin anak-anak Kotim punya masa depan cerah,” pungkas Umar. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard