Lewati ke konten utama
Provinsi

Pengembangan Bandara H Asan Sampit Terkendala, Nam Air Jadi Maskapai Terakhir yang Bisa Mendarat

Redaksi 12-07-2025, 09:53 WIB 2 menit baca
Bandara H Asan Sampit
Bandara H Asan Sampit

SB, SAMPIT – Rencana pengembangan Bandara H Asan Sampit di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) masih menghadapi sejumlah tantangan meskipun lahan untuk pemindahan gedung Pertolongan Kecelakaan Penerbangan dan Pemadam Kebakaran (PKP-PK) telah rampung.

Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang, dan Pertanahan Kotim, Rafiq Riswandi, menyampaikan bahwa penyelesaian lahan PKP-PK belum cukup untuk menjawab persoalan utama dalam pengembangan bandara.

“Meskipun nanti kami sudah menyelesaikan pengadaan lahan pemindahan gedung PKP-PK, ternyata belum tentu menyelesaikan masalah penerbangan kita,” ujar Rafiq dalam rapat bersama Komisi IV DPRD Kotim, Sabtu (12/7/2025).

Ia menjelaskan bahwa hasil koordinasi dengan pihak Bandara H Asan dan Kementerian Perhubungan menunjukkan terdapat berbagai kendala lain yang belum terselesaikan.

Salah satunya adalah keterbatasan infrastruktur bandara yang tidak lagi memadai untuk pesawat berbadan besar.

Saat ini, maskapai penerbangan mayoritas menggunakan jenis pesawat Airbus, sementara Bandara H Asan hanya mampu menampung pesawat berukuran lebih kecil. Nam Air disebut menjadi maskapai terakhir yang mampu beroperasi secara reguler karena jenis pesawatnya kini sudah tidak diproduksi lagi.

“Permasalahan kita bukan hanya gedung PKP-PK tetapi juga Jalan Bengkirai yang harus ditutup untuk pengembangan area bandara,” imbuh Rafiq.

Selain itu, keberadaan kebun sawit tinggi di sekitar bandara disebut menjadi obstacle yang mengganggu jarak pandang pilot dan membahayakan keselamatan penerbangan. Runway yang masih sempit juga menjadi tantangan, terutama bagi pesawat besar yang membutuhkan ruang manuver lebih luas.

“Mereka mengilustrasikan saat Airbus turun itu pesawat besar. Runway-nya mungkin saja cukup, tetapi saat memutar bisa mengenai atap-atap rumah warga di sekitar. Kekuatan pesawat berbadan besar itu besar sekali, jadi harus ada lapangan yang jauh lebih lebar,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kotim, Mariani, menekankan pentingnya keseriusan dalam penataan infrastruktur bandara. Menurutnya, tanpa persiapan menyeluruh, Bandara H Asan tidak akan mampu menerima penerbangan reguler dari maskapai besar.

“Kita perlu menyiapkan secara serius landasan pacu dan infrastruktur lainnya. Jika tidak, mustahil bisa menerima penerbangan reguler dari maskapai besar yang memakai Airbus,” ujar Mariani.

Pemkab Kotim bersama DPRD diharapkan terus memperkuat koordinasi lintas instansi, termasuk dengan Kementerian Perhubungan, agar pengembangan Bandara H Asan dapat berjalan maksimal dan menjawab kebutuhan transportasi udara jangka panjang di wilayah tersebut. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard