Pemkab Kotim Apresiasi Pedrosa: Pengangkutan Sampah Kini Lebih Efisien
SB, SAMPIT – Pemerintah kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memberikan apresiasi tinggi kepada Perkumpulan Persaudaraan Pengangkut Sampah (Pedrosa) atas peran aktif mereka dalam pengelolaan sampah, khususnya di wilayah Kota Sampit.
Kepala DLH Kotim, Marjuki, menyampaikan bahwa sinergi yang terjalin antara DLH dan Pedrosa memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi pengangkutan sampah di kota ini.
“Sebelumnya kami bisa mengerahkan hingga 35 truk dalam sehari. Kini hanya 17 sampai 18 truk, karena sampah dari rumah tangga sudah banyak yang terangkut oleh anggota Pedrosa,” ujar Marjuki saat kegiatan pembagian ID Card resmi untuk anggota Pedrosa, Sabtu (9/8/2025).
Pedrosa sendiri merupakan komunitas swadaya masyarakat yang menggunakan kendaraan roda tiga untuk mengangkut sampah dari permukiman ke depo-depo sampah. Saat ini, terdapat delapan depo aktif yang menjadi titik penampungan sebelum sampah diangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) di Kilometer 14 Jalan Jenderal Sudirman.
Keberhasilan kerja sama ini juga ditunjang oleh kesepakatan waktu buang sampah. Pedrosa hanya membuang sampah ke depo setelah truk DLH tiba, sehingga tumpukan sampah tidak dibiarkan lama menumpuk.
“Sekarang depo bisa bersih dalam waktu satu hari. Biasanya pukul 15.00 WIB sudah bersih. Dulu, bisa sampai tiga hari baru terangkut,” jelas Marjuki.
Dalam momen silaturahmi tersebut, DLH juga secara resmi menyerahkan kartu peserta (ID Card) kepada anggota Pedrosa sebagai bentuk legalitas dan pengakuan resmi atas kontribusi mereka.
Marjuki berharap, kekompakan antara DLH, Pedrosa, dan masyarakat bisa terus terjaga demi menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.
“Kalau semua kompak, persoalan sampah pasti bisa kita atasi. Kami juga mendorong masyarakat untuk disiplin membuang sampah sesuai waktu yang ditentukan, dan mulai melakukan pemilahan di rumah,” tegasnya.
Dengan sistem pemilahan, sampah bernilai ekonomi seperti plastik, kertas, dan logam bisa dimanfaatkan, sementara hanya residu yang benar-benar tidak bisa diolah yang dikirim ke TPA.
“Jika semua tertib, hanya sekitar 10 sampai 12 persen dari total sampah yang perlu dibuang ke TPA. Ini akan mengurangi beban dan memperpanjang usia tempat pembuangan akhir,” pungkasnya. (f1/sb)