Kebun Kelapa Sawit
SB, JAKARTA - Indonesia menjadi produsen kelapa sawit terbesar di dunia, sehingga tidak sedikit pengusaha Indonesia yang mencoba melabarkan sayap bisnis kelapa sawit, berhasil menjadi salah satu konglomerat ternama di Indonesia, bahkan ada yang juga masuk dalam daftar terkaya di Dunia.
Beberapa pengusaha yang menorehkan banyak keuntungan dari komoditas minyak segala keperluan ini.
Berikut daftarnya dikutip dari berbagai sumber :
Martua Sitorus :
Martua Sitorus adalah seorang pengusaha Indonesia. Ia bersama dengan Kuok Khoon Hong mendirikan perusahaan Wilmar International yang bergerak di bidang perkebunan dan pengolah minyak sawit mentah (CPO) serta produsen gula.
Dikenal sebagai salah satu pendiri Wilmar International, salah satu perusahaan agribisnis berbasis kelapa sawit terbesar di dunia, berada diperingkat 12 orang terkaya di indonesia, dengan kekayaan mencapai US$3.4 miliar atau sekitar Rp. 55 triliun. Di skala global, ia juga masuk dalam daftar miliarder dunia, menempati posisi ke-1045, menurut versi forbes pada tahun 2024.
Wilmar juga bekerja sama dengan perusahaan AS, Kellogg untuk menjual makanan di China dan mengakuisisi perusahaan tambang batu bara di Australia yakni Whitehaven Coal Ltd.
Awalnya Martua Sitorus yang dilahirkan di Pematangsiantar, Sumatera Utara ini, berdagang udang waktu masih muda.
Anthoni Salim :
Keluarga Salim, melalui Indofood Agri Resources Ltd, bisa memiliki sejumlah perusahaan kelapa sawit, seperti PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dan PT Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).
Sumber kekayaan Anthoni Salim tidak hanya berasal dari produk mi instan, Indomie, namun juga berasal dari kelapa sawit.
Dalam upayanya membangun perusahaan yang bergerak dalam produksi mi instan dan tepung terigu, Anthoni Salim pernah dinobatkan sebagai taipan terkaya nomor 3 di Indonesia oleh Majalah Globe Asia.
Kekayaannya ditaksir mencapai US$ 3 miliar atau jika dikonversikan sekitar Rp 27 triliun. Hal ini dikarenakan Anthoni Salim memiliki banyak perusahan baik publik maupun non-publik.
PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan PT Bogasari Flour Mills merupakan Perusahaan yang sudah sangat terkenal, sehingga produknya sudah banyak sekali dikenal oleh semua orang, mulai di Indonesia bahkan kini sudah mendunia. Pasti kebanyakan orang Indonesia sudah banyak yang mengenal mi instan Indomie, Supermi, dan Sarimi. Ketiga jenis mi ini pernah menjadi favorit banyak orang di Indonesia.
Selain mi instan, produk lainnya yang sudah banyak dikenal adalah susu Indomilk, tepung terigu Bogasari Segitiga Biru, Kunci Biru, dan Cakra Kembar. Bahkan minyak goreng Bimoli dan mentega Simas adalah milik Anthoni Salim.
Bahkan pada tahun 2009, PT Indofood pernah mencatat laba bersih yang diperolehnya tahun itu yakni mencapai 2 Triliun rupiah dan ini merupakan prestasi yang sangat membanggakan. Laba bersih tersebut merupakan keuntungan yang paling besar yang pernah dia raih selama menjalani bisnisnya. Padahal pada tahun 2009, harga komoditas terus bergejolak namun PT Indofood berhasil melewatinya.
Selain perusahaan diatas, keluarga Salim juga diketahui berbisnis kelapa sawit, dengan bendera Indofood Agri Resources Ltd. Sementara di bawah Grup Salim, ada beberapa perusahaan yang bergerak di bidang kelapa sawit, seperti PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP).
Beberapa tahun ke belakang, Grup Salim mengakuisisi banyak perusahaan kelapa sawit yang membuat lahan miliknya menjadi makin luas.
Sukanto Tanoto :
Sukanto Tanoto masuk dalam peringkat ke-5 orang terkaya di Indonesia, menurut Bloomberg Technoz.
Pada tahun 2024, Forbes mencatat kekayaannya mencapai USD 3,2 miliar atau sekitar Rp 49,67 triliun. Ia dikenal sebagai pendiri Royal Golden Eagle (RGE), sebuah grup bisnis yang bergerak di berbagai sektor seperti pulp dan kertas, minyak sawit, dan energi.
Dengan berbagai aset dan sumber kekayaan tersebut, Bahkan menurut Bloomberg Technoz, Sukanto berhasil menempati peringkat ke-103 orang terkaya di seluruh dunia, meskipun kekayaannya menguap US$1,4 miliar (Rp21,92 triliun), yang terpangkas 6,4% ptp hingga di angka kekayaan US$20,7 miliar (Rp324,23 triliun).
Grup yang berbasis di Singapura ini memiliki perkebunan kelapa sawit dan kayu, fasilitas gas alam, dan pabrik tekstil. Kantor keluarga Tanoto, Pacific Eagle, juga memiliki properti di London, Singapura, Shanghai, dan Munich.
Melalui Royal Golden Eagle (RGE), Sukanto Tanoto memiliki perusahaan kelapa sawit Asian Agri dan Apical.
Ciliandra Fangiono :
Merupakan pengusaha dari Indonesia, generasi kedua dari First Resources, salah satu perusahaan yang bergerak di sektor kelapa sawit dan mengelola bisnis kimia oleo.
Sebagai CEO First Resources, perusahaan kelapa sawit yang terdaftar di Singapura.
Selain itu ia juga mendirikan PT Ciliandra Perkasa, perusahaan ini berkaitan dengan penanaman kelapa sawit, pengilangan dan pengelolahan buah menjadi minyak sawit mentah serta inti sawit untuk penjualan lokal dan ekspor.
Ciliandra merupakan salah satu orang terkaya paling muda, yang masuk dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia, versi Forbes pada tahun lalu. Pengusaha muda yang berusia 47 tahun ini masuk dalam posisi 24, dimana kekayaannya saat ini tercatat sebesar US$1,83 miliar atau Rp. 26,4 triliun
Peter Sondakh :
Pada usia 22 tahun, ia telah mengambil alih bisnis minyak kelapa dan ekspor kayu. Selanjutnya Peter mendirikan PT. Rajawali Corpora. Melalui Rajawali Corpora,sejak itu Peter memulai bisnis properti sebagai perluasan usaha yang sebelumnya sudah dijalankan ayahnya.
Berkat pengalaman dan kemahiran dalam berkomunikasi dengan banyak pihak, Peter mencoba memasuki korporasi besar.
Berdasarkan catatan PDBI periode 1976-1996 tadi, ada 13 perusahaan yang diakuisisi dan 6 perusahaan didivestasi. Di sisi lain, grup usaha ini memiliki andil (penyertaan saham) di 13 perusahaan. Adapun total anak usaha dan perusahaan terafiliasi yang dimiliki Peter mencapai 49 perusahaan. Sebagai holding company di lingkungan Rajawali Corpora (sumber : wikipedia ensiklopedia bebas).
Melalui Rajawali Corpora, Peter Sondakh memiliki PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT).
Bahkan Peter juga memperluas jaringan bisnis, melalui Rajawali Property miliknya, yang didirikan pada tahun 1989, memiliki hotel ternama Four Seasons di Jakarta dan St. Regis di Jakarta dan Bali.
Peter Sondakh, pemilik Rajawali Corpora, berada di peringkat 22 orang terkaya di Indonesia pada tahun 2022 versi Forbes. Pada tahun 2024, ia menduduki peringkat 28 dalam daftar Indonesia's 50 Richest versi Forbes. Kekayaan bersihnya diperkirakan mencapai US$2 miliar atau sekitar Rp32,46 triliun.
Theodore Rachmat :
Pemilik Triputra Group, yang memiliki perusahaan kelapa sawit Triputra Agro Persada (TAP Group), menurut InfoSAWIT.
Walaupun memiliki hubungan keluarga dengan pendiri Astra, William Soeryadjaya, tidak langsung menduduki jabatan mentereng di Perusahaan raksasa tersebut, namun ia lebih memilih untuk mulai merangkak dari level bawah, sebagai sales.
Sehingga pada tahun 1972, Theodore Permadi Rachmat dipercaya untuk memimpin PT United Tractors Tbk (UNTR), yang merupakan anak perusahaan Astra yang bergerak di bidang alat berat.
Sehingga pada tahun 1984, Theodore Permadi Rachmat dipercaya serta diangkat sebagai Direktur Utama PT Astra International Tbk.
Pada tahun 1998 Theodore Permadi Rachmat, mendirikan Triputra Group, yang kini memiliki empat lini bisnis utama: agribisnis, manufaktur, energi, serta perdagangan dan jasa.
PT Triputra Agro Persada (TAPG), yang merupakan usaha Triputra Group yang bergerak di bidang agribisnis, khususnya perkebunan kelapa sawit dan karet, dengan luas area perkebunan, sekitar 1.400 hektar, yang tersebar di Jambi dan Kalimantan, menurut VOI.ID.
Menurut Forbes, kekayaan Teddy Rachmat terus meningkat dari tahun ke tahun, bahkan pada tahun 2024, kekayaan mencapai US$ 3,3 miliar (Rp54 triliun), peringkat 16 dalam Indonesia’s 50 Richest
Bachtiar Karim :
Bachtiar Karim adalah seorang pengusaha Indonesia, yang dikenal sebagai pemilik Musim Mas Group, salah satu perusahaan kelapa sawit terbesar di Indonesia bahkan dunia. Ia bersama saudara, Burhan dan Bahari, memimpin perusahaan yang bergerak di sektor kelapa sawit terintegrasi ini.
Musim Mas memiliki sejarah panjang, dimulai dari pabrik sabun yang didirikan oleh kakek Bachtiar Karim, kemudian berkembang menjadi perusahaan minyak sawit
Musim Mas, di bawah kepemimpinan Bachtiar Karim, telah berkembang menjadi perusahaan yang beroperasi di berbagai negara di Asia, Eropa, dan Amerika. Perusahaan ini tidak hanya bergerak di sektor kelapa sawit mentah, tetapi juga memiliki berbagai kegiatan usaha terkait, termasuk penyulingan, produksi biodiesel, dan perdagangan. Selain itu, Musim Mas juga dikenal dengan produk minyak goreng kemasan, seperti Sunco.
Musim Mas masuk ke kebun kelapa sawit demi mendukung industri hilir yang sudah lebih dulu digarap. Selain Kelapa sawit, grup ini juga memiliki Hotel Mikie Holiday di Brastagi, Sumut, yang dibangun tahun 2000.
Selain itu juga ada PT Megasurya Mas yang memproduksi berbagai produk sabun, seperti Harmony, Medicare, Lervia, Lark dan Champion
Diketahui, Bachtiar berada di posisi 11 orang terkaya di Indonesia dengan mencatatkan kekayaan bersihnya senilai US$ 4,1 miliar atau sekitar Rp. 22,81 triliun (kurs US$1 = Rp16.300).
Budi dan Michael Hartono :
Bambang dan Budi bahu membahu mengibarkan bendera Djarum sampai ke luar negeri. Saat ini Djarum mendominasi pasar rokok kretek di Amerika Serikat, jauh melebihi Gudang Garam dan Sampoerna.
Selain industri rokok, saat ini Bambang dan Budi merupakan pemegang saham terbesar dari Bank Central Asia (BCA). Mereka berdua melalui Farindo Holding Ltd. menguasai 51 persen saham BCA.
Selain itu, mereka juga memiliki perkebunan sawit seluas 65.000 hektare di Kalimantan Barat sejak tahun 2008, serta sejumlah properti di antaranya pemilik Grand Indonesia dan perusahaan elektronik Polytron.
Pada 2022, Forbes merilis daftar orang terkaya di Indonesia, Budi Hartono dan Bambang Hartono menduduki peringkat pertama dengan total kekayaan US$ 47,7 Miliar. Bambang sendiri menduduki peringkat 69 dunia dengan total kekayaan US$ 22,3 Miliar.
Keluarga Widjaja :
Keluarga Widjaja, yang dikenal sebagai pemilik Sinar Mas Group, adalah salah satu pemain utama dalam industri kelapa sawit di Indonesia. Mereka memiliki berbagai perusahaan terkait kelapa sawit, termasuk Golden Agri-Resources, salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia.
Keluarga Widjaja mewarisi kerajaan bisnis yang didirikan oleh Eka Tjipta Widjaja, yang juga dikenal sebagai pendiri Sinar Mas Group.
Sinar Mas Group memiliki berbagai bisnis, termasuk produksi minyak goreng dengan merek seperti Filma, Mitra, Kunci Mas, dan Palmvita.
Golden Agri-Resources adalah bagian dari Sinar Mas Group dan merupakan salah satu perusahaan kelapa sawit terbesar di dunia.
Franky Oesman Widjaja, salah satu putra Eka Tjipta Widjaja, memegang posisi penting di Golden Agri-Resources.
Keluarga Widjaja menduduki peringkat atas dalam daftar orang terkaya di Indonesia, dengan kekayaan yang sebagian besar berasal dari bisnis kelapa sawit dan grup Sinar Mas.
Selain kelapa sawit, Sinar Mas Group juga memiliki bisnis di berbagai sektor lain seperti kertas, real estat, keuangan, dan telekomunikasi.
Kekayaan keluarga Widjaja, pendiri Sinar Mas Group, mencapai US$18,9 miliar atau sekitar Rp302,5 triliun, menempatkan mereka di peringkat keempat dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi Forbes pada Desember 2024. Lonjakan kekayaan ini terutama didorong oleh kenaikan saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), unit energi dan infrastruktur dari Sinar Mas, yang naik tujuh kali lipat. (*)