Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Jayani
SB, PALANGKA RAYA - Viral nya permainan lato-lato dianggap ada sisi baik dan buruknya mulai menganggu, juga membahayakan, sehingga beberapa daerah melarang permainan tersebut digunakan atau dimainkan di sekolah.
Pemerintah Kota Palangka Raya salah satu daerah yang sudah mengeluarkan surat terkait perihal larangan penggunaan Lato-lato
di Satuan Pendidikan. Surat tersebut sudah ditujukan kepada Kepala SD, Kepala SMP dan Swasta Se-Kota Palangka Raya.
Adapun isi surat himbauan tersebut bertujuan untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan serta untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, dengan ini diinstruksikan kepada semua Kepala Satuan Pendidikan untuk melarang Peserta Didiknya membawa alat permainan lato-lato ke sekolah, karena dianggap dapat menggangu proses belajar mengajar.
Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin, melalui Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Jayani mengatakan, hal ini dilakukan setelah mengamati, bahwa permainan lato-lato bisa mengakibatkan perhatian terhadap anak-anak dalam belajar bisa terganggu.
"Surat edaran itu dikeluarkan semenjak Rabu kemarin, dikarena sudah ada kita dapatkan aduan dari pihak masyarakat atau sekolah bahwa, akibat dari lato-lato mengakibatkan adanya memar di bagian mukanya saat bermain lato-lato. Dan itu telah disampaikan juga saat pertemuan bersama Pak Walikota pada hari Rabu yang lalu," ungkapnya saat dikonfirmasi, oleh Seputar Borneo Sabtu (14/1/2023).
Lanjutnya dengan melihat hal tersebut, berdasarkan arahan bapak Walikota melalui Dinas Pendidikan langsung mengambil sikap melarang untuk semua satuan pendidikan terutama SD dan SMP untuk melarang anak-anak, agar tidak membawa mainan lato-lato ke sekolah.
"Hal ini juga sifatnya persuasif melarang, dan jika nanti ditemukan masih ada yang membawa permainan tersebut, tentunya hal yang pertama kita lakukan, yakni mengarahkan kepada pihak kepala sekolah untuk memperingatkan, agar besoknya tidak membawa lagi permainan tersebut," tambahnya.
Jayani menegaskan, intinya disini murid tidak diperbolehkan membawa ke sekolah, dan memainkan permainan tersebut disekolah, karena ditakutkan menganggu pembelajaran.
"Kita berharap tentunya di sekolah-sekolah baik guru, dan juga pihak orang tua untuk bisa mengawasi dan mengontrol terhadap permainan anaknya ini, serta diingatkan jangan membawa ke sekolah," tandasnya. (yud)