Lewati ke konten utama
Provinsi

Video Viral Menyebut Menu MBG Ada Ulat, SMPN 1 Sampit Angkat Bicara

Redaksi 17-11-2025, 04:54 WIB 2 menit baca
Pihak SMPN 1 Sampit bersama SPPG memberikan klarifikasi terkait video viral menyebut ada ulat pada MBG. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)
Pihak SMPN 1 Sampit bersama SPPG memberikan klarifikasi terkait video viral menyebut ada ulat pada MBG. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)

SB, SAMPIT - Terkait video viral yang menampilkan dugaan temuan ulat pada menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 1 Sampit, pihak sekolah telah melakukan penelusuran dan pemeriksaan terhadap laporan tersebut.

Menurut Kepala Sekolah SMPN 1 Sampit, Suyoso, siswa yang merekam dan mengunggah video tersebut ternyata mengalami salah persepsi terhadap isi makanan yang diterima.

Siswa itu mengira terdapat ulat pada telur, padahal warna atau bentuk yang dilihatnya berasal dari saus atau mayones yang tercampur dalam adonan telur.

“Siswa tersebut terpengaruh oleh pemberitaan yang selama ini muncul mengenai MBG. Ia berimajinasi bahwa garis pada telur itu adalah ulat. Setelah kami cek, baik secara langsung maupun melalui dapur penyedia, hal itu tidak terbukti,” jelas Suyono, Senin (17/11/2025).

Ia menambahkan, berdasarkan peninjauan ulang dan pemeriksaan CCTV, tidak ditemukan benda asing di dalam makanan seperti yang disampaikan dalam video.

Bahkan telur yang dianggap bermasalah itu ikut dimakan bersama siswa lainnya tanpa keluhan tambahan.

“Fakta di lapangan menunjukkan siswa-siswa lain menikmati makanannya seperti biasa. Tidak ada imajinasi yang sama dengan siswa yang membuat video tersebut. Laporannya pun menunjukkan makanan habis,” ungkapnya.

Suyoso menegaskan, pihak sekolah memastikan tidak ada belatung ataupun benda asing seperti yang ramai disebutkan. 

Hal itu diperkuat oleh hasil pemeriksaan dapur penyedia yang menunjukkan bahwa bagian yang disangka ulat merupakan campuran saus atau mayones yang menempel pada telur.

Ia juga menyampaikan, siswa yang bersangkutan sudah diberi pembinaan agar tidak mudah menyampaikan informasi tanpa memahami fakta yang sebenarnya.

Pihak sekolah juga memberikan penguatan pemahaman kepada seluruh siswa agar menyampaikan setiap keluhan melalui guru sebagai jalur resmi.

“Sebagai bentuk perlindungan anak, setiap informasi harus disampaikan melalui guru pembina agar bisa diklarifikasi dan dikoordinasikan dengan pihak terkait. Kami ingin siswa lebih berhati-hati dan berpegang pada fakta,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SPPG Dinda Tulus menyampaikan, pihaknya telah melakukan evaluasi bersama sekolah terkait peristiwa ini. 

Ia menyebut, kejadian tersebut menjadi pembelajaran untuk memperkuat SOP dalam proses pengolahan dan pemeriksaan makanan.

Intinya kami semua sudah melakukan evaluasi. Kejadian ini kami jadikan bahan perbaikan agar tidak terulang lagi. Dari pemeriksaan, itu bukan belatung atau ulat, melainkan bahan makanan yang bentuknya mirip,” kata Dinda.

Dinda juga menuturkan, saat kejadian ia tidak berada di lokasi sehingga tidak dapat memastikan secara langsung. Namun setelah mendapat laporan lengkap dari sekolah dan tim, ia memastikan temuan dalam video tidak sesuai dengan fakta di lapangan.

Pihaknya juga berharap sekolah dapat segera memberikan informasi ke SPPG jika ada temuan atau keluhan terkait menu MBG. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard