Lewati ke konten utama
Provinsi

Polemik KSO dan SPK, Rimbun Tegaskan Hanya Menjalankan Tugas Sebagai Wakil Rakyat

Redaksi 15-02-2026, 03:33 WIB 2 menit baca
Rimbun
Rimbun

SB, SAMPIT - Ketua DPRD Kotawaringin Timur (Kotim), Rimbun, memberikan klarifikasi terkait tudingan penerimaan uang dalam proses penarikan rekomendasi dukungan kemitraan kerja sama operasional (KSO) serta pencabutan surat perintah kerja (SPK) yang disampaikan orator aksi DPP Tantara Lawang Adat Mandau Talawang.

Rimbun menegaskan, dirinya hanya menjalankan fungsi dan kewenangan sebagai wakil rakyat sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

“Kami wajib menerima aspirasi masyarakat dan memediasi sesuai tugas dan fungsi DPRD sebagaimana diatur dalam PP Nomor 16 Tahun 2010 dan penyempurnaannya Nomor 12 Tahun 2018. Tetapi itu mengarah pada lembaga. Kalau menyerang pribadi, itu berbeda,” ujarnya, Sabtu (14/2/2026).

Ia menjelaskan, terdapat 10 koperasi dan dua kelompok tani yang sebelumnya berkomunikasi dengan DPRD dan meminta dilakukan mediasi hingga terbitnya KSO dan SPK.

“Mereka yang berkomunikasi dan meminta mediasi. Silakan nanti dipanggil semua, agar jelas dan terang,” tegasnya.

Tudingan tersebut sebelumnya disampaikan oleh orator aksi DPP Tantara Lawang Adat Mandau Talawang berinisial Wa saat aksi damai yang digelar pada Jumat (13/2//2026).

Aksi itu berkaitan dengan protes atas penarikan rekomendasi dukungan kemitraan KSO bagi sejumlah koperasi dan kelompok tani.

Merasa dirugikan atas pernyataan tersebut, Rimbun resmi melaporkan dugaan pencemaran nama baik ke Polres Kotim. Dalam laporannya, ia menyerahkan sejumlah dokumen pendukung, termasuk surat laporan resmi, daftar saksi, serta dokumentasi dan rekaman video sebagai barang bukti.

Saat ditanya mengenai komunikasi dengan massa aksi pada hari kejadian, Rimbun mengaku telah berada di kantor sejak pagi untuk menerima perwakilan pengunjuk rasa.

“Saya sudah di kantor sejak pukul 07.30 WIB dan stand by di ruangan. Saya menunggu, bahkan ingin agar pimpinan Mandau Talawang hadir agar bisa berdiskusi langsung,” ungkapnya.

Namun demikian, ia menyebut situasi di lapangan berubah dengan cepat dan pimpinan aksi hanya datang sebentar sebelum massa membubarkan diri.

“Bukan karena saya menghindar atau takut. Di mana pun saya siap duduk dan berdiskusi, yang penting aksi berjalan damai dan saling menghormati,” pungkasnya. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard