Salah satu pedagang plastik di Kota Sampit mencantumkan bahwa harga mulai naik. (FOTO: SEPUTARBORNEO)
SB, SAMPIT - Harga berbagai jenis plastik dan kemasan di Sampit mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Kenaikan ini disebut-sebut dipicu oleh gangguan pasokan bahan baku seperti nafta dan resin akibat konflik di Timur Tengah yang berdampak pada rantai pasok global.
Salah satu pedagang plastik di Sampit, Didin, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi hampir pada seluruh jenis produk yang dijualnya. Mulai dari plastik packing, kantong kresek, wadah makanan dan minuman, botol, hingga alat makan sekali pakai.
“Naiknya harga komoditas plastik ini karena bahan bakunya terganggu. Jadi pasokan dari sana ikut tersendat,” ujar Didin, Jumat (3/4/2026).
Ia menyebutkan, kenaikan harga bahkan mencapai 25 hingga 150 persen untuk beberapa jenis produk. Salah satu yang paling terasa adalah plastik bening.
“Yang paling mahal itu plastik bening. Dulu harga normalnya sekitar Rp10 ribu per sepak, sekarang sudah naik jadi Rp 17 ribu,” jelasnya.
Lonjakan harga tersebut turut berdampak pada daya beli masyarakat. Didin mengaku, pelanggan kini cenderung membeli dalam jumlah lebih sedikit dibandingkan sebelumnya.
“Biasanya pelanggan beli satu sepak, sekarang banyak yang beli satuan saja. Itu sangat berpengaruh ke omzet kami,” katanya.
Menurutnya, kondisi ini membuat para pedagang plastik dan kemasan harus bertahan di tengah penurunan penjualan. Omzet yang sebelumnya stabil kini mengalami penurunan cukup drastis.
Para pedagang berharap kondisi pasokan bahan baku global segera membaik agar harga kembali stabil. Jika tidak, mereka khawatir penurunan daya beli akan semakin berdampak pada kelangsungan usaha.
“Harapannya harga bisa turun lagi, supaya pembeli juga kembali normal dan usaha kami bisa berjalan seperti biasa,” tutup Didin. (f1/sb)