seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Hujan Deras, Pasar Parenggean Tergenang

by Redaksi - Tanggal 20-04-2026,   jam 12:41:31
Tampak kawasan di Pasar Parenggean terjadi genangan. (FOTO: ISTIMEWA)

SB, SAMPIT - Banjir dengan Genangan air sempat terjadi di kawasan Pasar Parenggean, Kecamatan Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), menyusul hujan lebat yang berlangsung selama beberapa jam, pada Minggu (19/4/2026) malam. 

Camat Parenggean, Muhamad Jais, menyebut genangan tersebut disebabkan oleh drainase yang tersumbat, bukan luapan sungai.

“Banjir ini sebenarnya hanya genangan, bukan dari sungai. Penyebab utamanya karena drainase atau parit yang tersumbat, ditambah hujan cukup lama sekitar 3 sampai 4 jam,” ujar Jais, Senin (20/4/2026).

Ia menjelaskan, kondisi geografis wilayah Parenggean yang berada di kawasan perbukitan membuat aliran air mengalir ke area pasar yang posisinya lebih rendah. Namun, aliran tersebut terhambat akibat banyaknya saluran air yang tertutup.

“Di pasar itu ada kios-kios yang menutup parit dengan papan, sehingga menghambat aliran air. Ini yang jadi salah satu penyebab genangan,” jelasnya.

Menurutnya, pemerintah kecamatan bersama lurah, RT/RW, dan masyarakat sebenarnya rutin melakukan gotong royong untuk membersihkan saluran air.

Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya efektif karena masih rendahnya kesadaran sebagian warga terutama di kawasan pasar. 

Sebagai langkah lanjutan, pihak kecamatan juga menggandeng tokoh adat melalui Damang untuk memperkuat penegakan aturan berbasis kearifan lokal.

“Kami sudah lakukan sosialisasi bersama lurah dan damang adat. Ke depan, kemungkinan akan dibuat semacam MoU agar penertiban ini lebih efektif,” tambahnya.

Jais menyebutkan, genangan air yang terjadi tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 20 sentimeter dan tidak sampai masuk ke rumah atau toko warga. Kondisi tersebut juga cepat surut dalam waktu 3 hingga 4 jam.

“Air hanya menggenang sementara dan hari ini sudah surut. Tidak sampai masuk ke rumah atau toko,” ujarnya.

Ia optimistis, jika sistem drainase dapat berfungsi dengan baik, genangan serupa tidak akan terjadi lagi. Namun, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama dalam perbaikan infrastruktur.

“Selama ini belum ada perbaikan drainase dari pemerintah karena keterbatasan anggaran, jadi kami lakukan secara swadaya bersama masyarakat,” ungkapnya.

Selain itu, pihak kecamatan juga menggandeng perusahaan sekitar melalui program CSR untuk membantu penanganan infrastruktur, termasuk perbaikan jalan dan penimbunan.

“Kami bekerja sama dengan pihak ketiga melalui CSR. Jalan dari Simpang Desa Bajarau menuju Parenggean juga sudah dilakukan perbaikan,” katanya.

Untuk penanganan sampah, pemerintah kecamatan telah menyiapkan lahan seluas sekitar 4 hektare sebagai lokasi pembuangan, meski pengelolaannya belum maksimal.

“Kami sudah siapkan lahan, tapi memang belum optimal karena keterbatasan anggaran. Ini juga terus kami upayakan,” tutupnya. (f1/sb)