Kepala DLH Kotim, Marzuki
SB, SAMPIT - Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Marzuki, mengimbau masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik, khususnya kantong kresek, seiring sulitnya proses daur ulang dan lamanya waktu penguraian bahan tersebut.
Marzuki menjelaskan, pemerintah daerah telah mengeluarkan edaran bupati yang mendorong masyarakat membawa tas belanja sendiri sebagai alternatif pengganti plastik sekali pakai.
“Plastik ini menjadi salah satu barang yang susah untuk didaur ulang dan membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai. Karena itu, kami mengimbau masyarakat saat berbelanja agar membawa kantong sendiri, seperti tas pakai ulang,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).
Menurutnya, pengurangan penggunaan plastik tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga dapat menekan volume sampah yang sulit diolah, terlebih di tengah kenaikan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir.
Ia juga mengapresiasi, kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah kini mulai meningkat. Hal tersebut terlihat dari penurunan volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Dulu sampah yang diangkut bisa mencapai 98 hingga 100 ton per hari, bahkan ada yang tidak terangkut. Sekarang maksimal sekitar 77 ton, bahkan sering di angka 60 sampai 70 ton sudah selesai terkelola,” jelasnya.
Selain itu, DLH juga mendorong perubahan perilaku sejak dini melalui lingkungan sekolah, salah satunya dengan mengimbau siswa membawa tumbler dari rumah untuk mengurangi sampah botol plastik.
“Kami sudah sampaikan melalui edaran, sekolah-sekolah diharapkan tidak lagi menggunakan botol plastik sekali pakai, tetapi membawa tumbler dari rumah,” tambahnya.
Marzuki menegaskan bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah.
“Sampah adalah kita, kita yang menghasilkan, maka kita juga yang harus mengelola dan menyelesaikannya,” tegasnya.
Ia pun mengapresiasi perubahan yang mulai terlihat di masyarakat, di mana kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan dan mengelola sampah secara mandiri semakin meningkat.
“Sekarang masyarakat sudah jauh lebih sadar. Sampah tidak lagi dibuang sembarangan, bahkan sebagian sudah dikelola di rumah tangga maupun depo,” pungkasnya. (f1/sb)