Tampak kodisi banjir terus meningkat di wilayah Kecamatan Pulau Hanaut. (FOTO:ISTIMEWA)
SB, SAMPIT – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam beberapa hari terakhir kembali memicu banjir di Kecamatan Pulau Hanaut, Jumat (24/4/2026). Sedikitnya 11 desa terdampak, dengan ketinggian air bervariasi hingga mencapai satu meter di sejumlah titik.
Camat Pulau Hanaut, Fahrujiansyah, mengatakan banjir mulai terjadi sejak pagi hari setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut pada malam sebelumnya.
“Di Desa Babirah, ketinggian air rata-rata mencapai 50 sentimeter di sepanjang Jalan Bapinang dan Pagatan, bahkan bisa sampai satu meter di titik yang lebih rendah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kondisi diperparah karena air belum sepenuhnya surut saat hujan kembali turun, ditambah pasang air sungai yang menyebabkan debit meningkat signifikan.
“Tadi malam hujan, air belum surut normal. Ditambah air pasang, sejak pukul 06.00 WIB air kembali naik,” jelasnya.
Tak hanya merendam permukiman dan akses jalan warga, banjir juga menggenangi kantor kecamatan. Air bahkan dilaporkan masuk hingga ke dalam aula.
“Kalau air pasang bersamaan dengan hujan deras, sudah biasa masuk ke dalam kantor,” katanya.
Menurut Fahrujiansyah, kondisi bangunan kantor kecamatan yang masih didominasi material kayu serta atap bocor turut memperburuk situasi. Usulan perbaikan pun telah berulang kali diajukan melalui Musrenbang.
“Kami tidak muluk-muluk, hanya berharap ada perbaikan aula. Bangunan masih banyak yang lama, atap bocor,” ungkapnya.
Dari total 14 desa di Pulau Hanaut, hanya dua desa yang relatif aman dari banjir, yakni Desa Rawasari dan Makarti karena letaknya jauh dari aliran sungai. Sementara desa lainnya berada di kawasan bantaran sungai yang rawan terdampak.
“Sekitar 11 sampai 12 desa terdampak. Yang aman hanya dua desa tersebut,” ujarnya.
Di wilayah seperti Santiruk dan Hantipan, air bahkan dilaporkan masuk ke dalam rumah warga. Sementara di lokasi lain, genangan mencapai 30 sentimeter dan berpotensi terus meningkat.
Meski demikian, warga disebut sudah terbiasa menghadapi banjir musiman yang kerap terjadi setiap tahun.
“Biasanya 4 sampai 6 jam sudah surut. Tapi kalau tinggi, bisa masuk rumah,” katanya.
Banjir ini juga berdampak pada aktivitas masyarakat, terutama akses jalan yang terendam sehingga mobilitas terganggu.
Fahrujiansyah turut mengingatkan warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya lain, seperti kemunculan buaya di sekitar bantaran sungai.
“Kami imbau masyarakat tetap waspada, khususnya yang tinggal di pinggir sungai. Untuk wilayah pesisir juga tidak disarankan memelihara ternak di tepi sungai,” tegasnya.
Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap penanganan banjir secara berkelanjutan, termasuk perbaikan infrastruktur yang dinilai sudah tidak layak. (f1/sb)