Kepala Dinas Perhubungan Kotim, Raihansyah
SB, SAMPIT - Operasional maskapai Super Air Jet di Bandara Haji Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dipastikan tetap mampu mengangkut penumpang dengan kapasitas penuh hingga 180 orang. Namun, kapasitas bagasi gratis penumpang mengalami penyesuaian sebagai bagian dari teknis operasional penerbangan.
Kepala Dinas Perhubungan Kotim, Raihansyah mengatakan, pengurangan kapasitas bagasi dilakukan agar pesawat dapat terbang optimal dari Bandara Haji Asan Sampit tanpa mengurangi jumlah penumpang.
“Kalau untuk kapasitas penumpang tetap bisa penuh 180 orang, tetapi ada pengurangan kapasitas bagasi gratis. Awalnya 20 kilogram, kemudian turun menjadi 15 kilogram dan sekarang menjadi 10 kilogram,” kata Raihansyah, Rabu (20/5/2026).
Ia menjelaskan, kapasitas bagasi bisa kembali ditambah apabila jumlah penumpang tidak mencapai kapasitas maksimal.
“Kalau jumlah penumpangnya tidak penuh, otomatis bagasi bisa ditambah lagi,” ujarnya.
Menurut Raihansyah, penyesuaian tersebut merupakan bagian dari pembahasan teknis antara pihak maskapai dan otoritas penerbangan. Di sisi lain, progres operasional Super Air Jet di Bandara Haji Asan Sampit terus berjalan dan dijadwalkan mulai beroperasi pada 12 Juni 2026.
“Hari ini kami kedatangan tim Lion Group terkait progres Super Air Jet yang akan beroperasi di Bandara Haji Asan Sampit. Tadi sudah disampaikan bahwa penerbangan perdana dijadwalkan pada 12 Juni 2026,” ungkapnya.
Ia pun meminta dukungan masyarakat agar operasional penerbangan perdana dapat berjalan lancar.
“Mohon doa kepada seluruh masyarakat Kotim agar operasional penerbangan ini berjalan lancar dan tidak ada kendala,” katanya.
Raihansyah mengungkapkan, jadwal penerbangan perdana sebelumnya sempat direncanakan pada 7 Mei 2026. Namun jadwal tersebut ditunda setelah adanya pertimbangan dari AirNav Indonesia dan BMKG terkait kondisi cuaca di wilayah Kalimantan.
“Berdasarkan pertimbangan bersama AirNav Indonesia dan BMKG, kondisi cuaca pada Mei diprediksi kurang bagus untuk penerbangan di wilayah Kalimantan sehingga jadwal diundur ke Juni,” jelasnya.
Selain faktor cuaca, perubahan jadwal juga dipengaruhi penyesuaian slot penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng. Awalnya penerbangan Jakarta–Sampit direncanakan berlangsung pagi hari, namun kemudian diubah menjadi siang hari.
“Untuk slot terbaru, pesawat berangkat dari Jakarta sekitar pukul 11.45 WIB dan diperkirakan tiba di Sampit sekitar pukul 14.30 WIB,” katanya.
Ia memastikan seluruh persyaratan teknis operasional penerbangan saat ini telah dinyatakan selesai atau clear.
“Perizinan, slot penerbangan dari Cengkareng, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, obstacle bandara hingga engineering semuanya sudah clear,” ungkapnya.
Meski demikian, evaluasi akhir bersama tim teknis tetap akan dilakukan pada awal Juni guna memastikan kesiapan operasional mencapai 100 persen sebelum penerbangan perdana dilaksanakan.
“Nanti awal bulan akan ada tim teknis turun lagi untuk memastikan kesiapan terakhir sehingga saat penerbangan perdana tidak ada kendala,” ujarnya.
Raihansyah juga menyebut antusiasme masyarakat terhadap rute penerbangan baru tersebut cukup tinggi. Bahkan tiket penerbangan perdana dari Jakarta menuju Sampit mulai banyak dipesan masyarakat.
“Informasi dari pihak Super Air Jet, tiket penerbangan perdana dari Jakarta ke Sampit sudah mulai ada yang memesan,” katanya.
Terkait tarif, ia menyebut harga tiket saat ini masih berada di kisaran Rp1,5 juta, namun tetap bergantung pada biaya operasional maskapai.
“Tarif penerbangan sangat dipengaruhi biaya operasional, terutama harga avtur dan nilai tukar dolar,” jelasnya.
Ia menyebut harga avtur di wilayah Kotim mengalami kenaikan cukup signifikan, dari sekitar Rp16 ribu menjadi Rp27 ribu per liter. Selain itu, kebutuhan operasional penerbangan seperti suku cadang dan peralatan masih menggunakan transaksi dolar Amerika Serikat.
“Karena spare part dan kebutuhan operasional menggunakan dolar, tentu itu sangat berpengaruh terhadap tarif penerbangan,” ujarnya.
Meski demikian, pihaknya berharap subsidi pemerintah terhadap Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sektor penerbangan sebesar 11 persen dapat terus berlanjut agar harga tiket tetap terjangkau bagi masyarakat.
“Mudah-mudahan subsidi dari pemerintah bisa terus berlanjut karena itu sangat membantu menekan harga tiket,” pungkasnya. (f1/sb)