Pelayanan Cuci Darah RSUD dr Murjani Sampit Dimaksimalkan Meski Perbatasan SDM
SB, SAMPIT - RSUD dr Murjani Sampit terus berupaya mengoptimalkan pelayanan hemodialisa atau cuci darah bagi pasien, termasuk pasien rujukan dari luar daerah. Saat ini, rumah sakit masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia (SDM) bersertifikasi untuk memaksimalkan operasional seluruh alat yang tersedia.
Kepala Bidang Pelayanan Medik dr. Candra E. mengatakan, sebagian besar pasien cuci darah merupakan peserta BPJS Kesehatan karena pengobatan tersebut bersifat rutin dan jangka panjang.
“Kalau pasien punya BPJS biasanya lebih banyak, karena ini penyakit kronis dan pengobatannya berulang-ulang. Kalau umum saya rasa cukup berat juga, karena cuci darah bisa dilakukan seminggu sekali atau dua minggu sekali,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).
Ia menjelaskan, kapasitas alat hemodialisa di RSUD dr Murjani saat ini sebenarnya sudah hampir maksimal. Namun, optimalisasi pelayanan masih bergantung pada ketersediaan tenaga medis dan perawat yang memiliki kompetensi khusus.
“Sekarang tinggal kebutuhan penambahan sumber daya saja supaya alat bisa maksimal running. Misalnya pagi bisa 18 sampai 20 alat berjalan penuh, kemudian siang juga bisa berjalan maksimal,” katanya.
Menurut Candra, pemenuhan alat medis relatif lebih mudah dibandingkan penyediaan tenaga kesehatan yang kompeten di bidang hemodialisa. Pasalnya, seluruh perawat di unit hemodialisa wajib memiliki sertifikasi khusus.
“Semua perawat harus punya sertifikasi. Itu juga menjadi syarat dari BPJS agar perawat di unit HD memahami penanganan pasien-pasien hemodialisa,” jelasnya.
Selain perawat bersertifikasi, layanan hemodialisa juga harus didukung dokter pengampu spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi. Saat ini, pendampingan dokter pengampu sudah bisa dilakukan dari dalam Kalimantan.
“Kalau dulu pengampunya dari luar Kalimantan, sekarang karena sudah ada di Kalimantan jadi lebih mudah. Kita juga punya dokter penyakit dalam dan perawat pendukung,” pungkasnya. (f1/sb)