Lewati ke konten utama
Kotawaringin Timur

SMPN 1 Sampit Perkuat Status Sekolah Model, Orang Tua Diajak Dukung Pengembangan Bakat Siswa

Redaksi 25-07-2026, 19:59 WIB 3 menit baca
SMPN 1 Sampit melaksanakan pertemuan bersama orang tua siswa dan komunikasi sekolah. (FOTO: ISTIMEWA)
SMPN 1 Sampit melaksanakan pertemuan bersama orang tua siswa dan komunikasi sekolah. (FOTO: ISTIMEWA)

SB, SAMPIT - SMP Negeri 1 Sampit terus memperkuat perannya sebagai sekolah model di Kalimantan Tengah dengan mendorong kolaborasi bersama orang tua dalam mengembangkan potensi peserta didik. Status sebagai satu-satunya sekolah model jenjang SMP di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dinilai menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar untuk menghadirkan pendidikan yang inovatif dan berkualitas.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMP Negeri 1 Sampit, Yuli Karyati, mengatakan sekolah yang dipimpinnya merupakan satu-satunya SMP di Kotim yang ditetapkan sebagai sekolah model oleh pemerintah.

“Bahwa SMP Negeri 1 ini satu-satunya sekolah model dari Kabupaten Kotawaringin Timur untuk jenjang SMP. Memang ada SD dan juga ada TK, tetapi SMP-nya hanya kita,” ujar Yuli saat pertemuan bersama orang tua dan komunitas sekolah, Sabtu (25/7/2026).

Menurut Yuli, predikat tersebut membawa konsekuensi bagi sekolah untuk terus meningkatkan mutu pendidikan melalui berbagai inovasi pembelajaran yang selaras dengan perkembangan zaman.

Ia menjelaskan, berdasarkan pelatihan yang diikutinya sebagai kepala sekolah, terdapat sejumlah program yang harus dipersiapkan, mulai dari penerapan pembelajaran mendalam (deep learning), penguatan kemampuan coding, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

“Banyak hal yang harus kita siapkan. Karena itu, kami berkomitmen untuk meneruskan program sekolah model ini. Ini adalah sebuah kebanggaan bagi sekolah dan seluruh warga sekolah,” katanya.

Meski demikian, Yuli mengakui pengembangan sekolah model tidak dapat hanya mengandalkan anggaran Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP). Sebab, dana tersebut harus dibagi untuk membiayai berbagai program pendidikan yang jumlahnya cukup banyak.

Ia menyebutkan, terdapat lebih dari 20 kegiatan yang harus didukung, mulai dari Olimpiade Sains Nasional (OSN), Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN), Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N), Gala Siswa Indonesia (GSI), hingga berbagai program pengembangan minat dan bakat lainnya.

“BOSP itu banyak. Kalau kita rinci, ada OSN untuk sains, O2SN untuk olahraga, FLS3N untuk seni, kemudian ada GSI dan berbagai kegiatan lainnya. Kalau dirinci satu per satu, itu melebihi 20 item,” jelasnya.

Karena itu, pihak sekolah mengajak orang tua untuk turut berperan aktif mendukung potensi anak di luar program yang telah dibiayai pemerintah. Menurutnya, setiap anak memiliki bakat yang berbeda dan membutuhkan dukungan sesuai minat masing-masing.

Sebagai contoh, apabila siswa memiliki ketertarikan pada kegiatan drum band atau aktivitas lain yang belum sepenuhnya terakomodasi dalam pembiayaan sekolah, dukungan melalui komite sekolah dapat menjadi solusi.

“Anak-anak Bapak Ibu pasti memiliki bakat-bakat yang terpendam. Kalau misalnya sukanya drum band, maka bisa didukung melalui dana komite,” ujarnya.

Selain dukungan terhadap pengembangan bakat, Yuli juga mengajak orang tua membangun komunikasi yang terbuka dengan pihak sekolah. Ia menegaskan seluruh masukan maupun kendala yang dihadapi diharapkan disampaikan melalui forum resmi agar dapat dicarikan solusi bersama.

“Sekolah sangat terbuka. Begitu juga komunitas sekolah sangat terbuka. Silakan Bapak Ibu menyampaikan apa saja yang menjadi kendala di hari ini dan di tempat ini,” tuturnya.

Ia berharap setiap persoalan dapat diselesaikan melalui dialog sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman.

“Jangan sampai ketika ada sesuatu yang mengganjal justru disampaikan di luar. Sekolah sangat terbuka, dan seharusnya semua dibicarakan dalam forum,” tegasnya.

Di akhir pertemuan, Yuli menyampaikan apresiasi kepada para orang tua yang tetap meluangkan waktu menghadiri kegiatan meski berlangsung pada hari libur.

“Semoga di tengah hari libur Bapak Ibu tetap bisa hadir bersama-sama. Kalau melihat dari kehadiran ini, insyaallah semuanya hadir. Terima kasih sekali lagi atas kehadiran Bapak Ibu,” ucapnya.

Menurut Yuli, sinergi antara sekolah, komite, komunitas sekolah, dan orang tua menjadi kunci agar SMP Negeri 1 Sampit tidak hanya menyandang status sebagai sekolah model, tetapi juga mampu menjadi contoh dalam menghasilkan inovasi pendidikan, meningkatkan prestasi akademik maupun nonakademik, serta mengembangkan potensi siswa secara optimal. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard