Listrik Padam Berujung Peternak Ayam Terancam Kolaps, Kerugian Capai Ratusan Juta
SB, PALANGKA RAYA – Pemadaman listrik bergilir yang melanda Kalimantan Tengah (Kalteng) dalam beberapa pekan terakhir mulai membawa dampak serius bagi sektor peternakan ayam broiler. Ribuan ayam dilaporkan mati akibat terganggunya sistem sirkulasi udara kandang, membuat peternak mengalami kerugian besar hingga ratusan juta rupiah.
Kondisi ini dikhawatirkan semakin memperparah tekanan yang selama ini dialami peternak. Bahkan, Perhimpunan Insan Perunggasan (Pinsar) Kalteng menilai keberlangsungan usaha peternak rakyat bisa terancam apabila persoalan listrik tidak segera mendapat solusi.
Ketua Pinsar Kalteng, Andi Bustan, mengatakan masalah pemadaman listrik datang saat kondisi peternak sedang tidak baik. Sebelumnya, harga ayam hidup di tingkat peternak sudah mengalami penurunan tajam hingga sekitar Rp18.000 per kilogram.
"Saya sebenarnya sudah mengingatkan sejak dulu bahwa akan ada saatnya para peternak ini kolaps. Sebelumnya harga ayam sudah jatuh sampai Rp18.000 per kilogram. Sekarang ditambah lagi persoalan listrik yang terus padam setiap hari," ujar Andi.
Menurutnya, dampak terbesar dirasakan peternak ayam dengan sistem kandang tertutup atau close house. Sistem tersebut sangat bergantung pada listrik untuk mengoperasikan blower dan menjaga sirkulasi udara agar suhu kandang tetap stabil.
Di Palangka Raya saja, produksi ayam broiler mencapai sekitar 23 ribu ekor per hari. Sekitar 90 persen di antaranya menggunakan sistem kandang close house.
"Kalau listrik mati, suhu dalam kandang bisa naik drastis. Ayam bisa mati hanya dalam hitungan menit karena tidak mendapatkan sirkulasi udara yang cukup," jelasnya.
Andi memperkirakan, apabila pemadaman terus berlangsung dan menyebabkan banyak ayam mati, maka dalam beberapa waktu ke depan pasokan ayam di pasaran bisa terganggu.
"Kalau listrik padam dan misalnya 50 persen ayam mati, beberapa waktu ke depan harga ayam kemungkinan bisa naik karena produksi berkurang. Itu dari sisi pasokan," katanya.
Andi menyebut peternak plasma menjadi pihak yang paling terpukul akibat kondisi tersebut. Setelah merawat ayam selama 35 hingga 40 hari hingga mendekati masa panen, mereka hanya mendapatkan keuntungan sekitar Rp6.000 per ekor melalui sistem bagi hasil.
Ketika ayam mati sebelum dipanen, seluruh biaya pakan, perawatan, dan tenaga yang dikeluarkan selama lebih dari satu bulan menjadi sia-sia.
"Kalau ditanya kerugian, satu kandang dengan kapasitas 40 ribu ekor bisa mengalami kerugian sekitar Rp360 juta. Itu baru satu kandang. Bayangkan kalau satu peternak memiliki lima sampai sepuluh kandang, kerugiannya bisa mencapai miliaran rupiah," tegasnya.
Ia berharap kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena bukan hanya menyangkut kerugian peternak, tetapi juga berpotensi mengganggu ketersediaan ayam bagi masyarakat.
Andi meminta PLN melakukan evaluasi terhadap pola pemadaman bergilir, terutama di wilayah yang menjadi sentra peternakan ayam.
Menurutnya, pemadaman seharusnya tidak dilakukan secara sembarangan tanpa melihat kondisi wilayah yang terdampak.
"Karena itu saya mengimbau kepada PLN agar melakukan pemetaan. Jangan asal memadamkan satu blok demi satu blok. Lihat dulu apakah di wilayah tersebut terdapat peternakan dengan puluhan ribu ekor ayam atau berikan solusi seperti penyediaan genset berkapasitas besar," ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa keberadaan genset belum sepenuhnya menjadi solusi. Hampir seluruh kandang close house memang telah memiliki genset, namun kendala utama adalah ketersediaan bahan bakar ketika pemadaman terjadi berulang kali.
"Semua kandang close house sebenarnya sudah memiliki genset. Persoalannya bukan ada atau tidak ada genset, tetapi dari mana bahan bakarnya ketika pemadaman terjadi terus-menerus," katanya.
Saat ini, kata Andi, terdapat sekitar 12 perusahaan integrator yang bermitra dengan sekitar 3.000 hingga 4.000 peternak di berbagai wilayah Kalteng.
Ia berharap PLN segera menghadirkan solusi nyata agar peternak tidak terus menjadi pihak yang paling terdampak. Jika persoalan ini tidak segera ditangani, pihaknya tidak menutup kemungkinan akan membahas langkah hukum bersama para peternak.
"Kami berharap PLN segera menghadirkan solusi nyata agar peternak tidak terus menjadi pihak yang paling dirugikan," pungkasnya. (rk/sb)