seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Doris Sylvanus Akui Tangani Bayi Meninggal Bukan Dokter Spesialis Bedah Anak

by Redaksi - Tanggal 20-03-2024,   jam 07:17:56
Pihak RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya melaksanakan konfensi pers tudingan dokter malapraktik. (FOTO:SEPUTAR BORNEO) Pihak RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya melaksanakan konfensi pers tudingan dokter malapraktik. (FOTO:SEPUTAR BORNEO)

SB, PALANGKA RAYA – Pihak RSUD dr Doris Sylvanus Palangka Raya kembali membantah lontaran adanya malapraktik disampaikan oleh orang tua bayi AB yang meninggal dunia pasca dilakukan operasi.

Hal yang membuat aneh dalam kasus ini adalah kenapa yang melakukan operasi terhadap AB bukan dokter bedah anak, namun hanya dokter umum yang ada di rumah sakit swasta terbesar di Kalimantan Tengah tersebut.

Ironisnya lagi, kenapa orang tua atau keluarga si bayi baru dikasih tahu kalau usus bayi dipotong setelah bayi meninggal dunia.

Tidak hanya itu saja, kejanggalan juga ditemukan pasca operasi kenapa tiba-tiba jantung almarhum bocor, sedangkan sakit yang disebutkan oleh pihak rumah sakit Doris Sylvanus dipencernaan, tapi meninggalnya didagnosa jantung dan parunya berlubang.

Kuasa hukum keluarga almarhum AB, Roy Sidabutar mengatakan, dari pengakuan dari orang tua bayi sampai sekarang belum ada keterangan sekarang resmi secara ilmiah penyebab meninggal anak mereka, keterangan yang disampaikan hanya secara lisan dan itu tidak membuktikan kebenaran meninggal karena apa.

“Banyak kejanggalan yang ditemukan dalam kasus ini, awalnya pihak rumah sakit menyebutkan kondisi bayi selalu normal. Tapi kenapa pasca operasi usus ditemukan kebocotan jantung dan paru pada si bayi, coba kita pikir yang sakit usus kenapa tiba-tiba ada kebocoran pada jantung dan paru,” tukasnya.

Yang pada awalnya, ujar Roy, pihak rumah sakit hanya menyimpulkan akan memasang stogma pada dinding perut bayi namun pada kenyataan pemotongan usus dan ada dua kali operasi. Yang jadi pertanyaan apakah bayi yang berusia sigitu boleh dilakukan operasi dua kali dalam waktu berdekatan.

“Yang jelas kita sudah melaporkan kasus ini kepada pihak Polda Kalteng, harapan kita kasus ini benar-benar mendapatkan titik terang agar tidak ada lagi korban selanjutnya,” ujar Roy.

Sementara dalam konferensi pers pada Rabu (20/3/2024), Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD dr Doris Sylvanus, Anto Fernando berikan tanggapan atas tudingan malapraktik dalam penanganan bayi berinisial BJ yang meninggal dunia beberapa waktu lalu.

Dan menurutnya, pasien bayi AB lahir pada tanggal 9 Januari 2024 di luar Doris Sylvanus, kemudian pada tanggal 12 Januari 2024 pasien dirujuk ke rumah sakit Doris Sylvanus atas indikasi kembung dan muntah.

Kemudian melihat kondisi bayi petutnya makin kembung dilakukan pemeriksaan, ternyata mengarah keadaan kegawatan sehingga diputuskan untuk melakukan tindakan bedah yang bertujuan life setting.

Pada awalnya, memang hanya melakukan stogma namun melihat kondisi dan hasil pemeriksaan serta koordinasi pihak dokter maka diambil tindakan operasi yaitu pemotongan usus, sebab usus bayi tidak normal.

“Memang saat itu dokter spesialis bedah anak sedang cuti umroh, sedangkan bayi harus penanganan cepat sehingga ditengani oleh dokter umum yang memiliki kompoten tindakan (operasi kedaruratan). Tapi saya menjamin dokter yang menangani keahlian yang sama,” ucapnya saat melaksanakan jumpa pers kepada awak media, Rabu (20/3/2024).

Pada tanggal 25 Januari terjadi penurunan kondisi yaitu 9 hari pasca operasi, pasien mengalami gagal nafas dan pada hari 9 tersebut diputuskan untuk memasukan keruangan Micu dan dipasang ventilator.

"Dilakukan penanganan kegawatan oleh dokter dan perawat yang bertugas, namun kondisi pasien tetap menurun dan meninggal pada tanggal 25 Januari 2024," tuturnya. (sb)