Lewati ke konten utama
Kotawaringin Timur

Kaji Banding ke Banjar Baru Tangani Banjir

Redaksi 24-10-2022, 05:26 WIB 2 menit baca
Anggota Komisi III DPRD Kotim, SP Lumban Gaol
Anggota Komisi III DPRD Kotim, SP Lumban Gaol

SB, SAMPIT - Beberapa wilayah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) setiap tahunnya mengalami banjir apabila terjadi curah hujan dengan intensitas tinggi selama beberapa kali.

Sehingga masyarakatnya pun mengalami kesulitan dalam melakukan aktivitas dan untuk mendapatkan kebutuhan pokok akibat semua jalan terputus.

Melihat musibah tahunan tersebut, Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) melaksanakan kaji banding ke Kota Banjar Baru, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) bagaimana cara penanggulangan awal dan pasca banjir.

Fraksi Demokrat dari Komisi III DPRD Kotim, SP Lumban Gaol mengatakan, sebelum dilaksanakan pembahasan anggaran murni APBD 2023, pihaknya menggali banyak informasi dari daerah-daerah, khususnya dari Kalimantan Selatan yang paling tidak memiliki kesamaan dengan Kotawaringin Timur.

Yang pertama, kata Lumban Gaol, mereka mendatangi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banjar Baru dan Dinas Sosial.

"Disana kita menggali informasi, bagaimana mereka menyiapkan dari susunan segi anggaran mengantisipasi untuk memberikan tindakan berupa penyelamatan dan bantuan, secara khusus kita diskusikan pasca terjadi banjir. Nah ditempat kita belum ada itu dan nantinya akan kita sampaikan kepada eksekutif saat pembahasan anggaran," terang anggota Komisi III ini saat ditemui di Ruangan Fraksi Demokrat, Senin (24/10/2022).

Disini yang ditonjolkan, sebut wakil rakyat ini, yaitu bagaimana penanganan pasca terjadi banjir dan bagaimana mereka mengantisipasi kerusakan-kerusakan seperti infrastruktur, serta bagaimana mereka mengalokasikan anggaran kepada lokasi yang terdampak.

 "Misalnya dari segi sosial, yaitu penanganan masalah gagal panen akibat banjir. Dan juga faktor kerusakan baik itu dilingkungan perumahan maupun kerugian material karena ini sifatnya rutin dan harus ada solusinya," timpalnya.

Dari sana tambahnya, input yang mereka dapatkan adalah bagaimana penanganan setelah terjadi banjir atau pasca banjir, karena selama ini belum tertata dari dinas terkait untuk mempertimbangkan hal tersebut.

"Mereka disana sudah memberikan antisipasi sejak awal apabila terjadi banjir, yaitu mereka sudah mendata berapa KK terdampak banjir. Sehingga bantuan tinggal menyerahkan, baik saat banjir maupun pasca terjadi banjir. Contohnya pertanian, apakah pemberian bibit atau lahan dibantu penggarapan sehingga cepat ditangani," tukasnya. (ok)

 

 

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard