Lewati ke konten utama
Kotawaringin Timur

Targetkan 2027 Semua Desa di Kotim Miliki Pustu

Redaksi 17-05-2024, 01:42 WIB 1 menit baca
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kotim, Umar Kaderi ketika diwawancara oleh wartawan. (FOTO:ABU)
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kotim, Umar Kaderi ketika diwawancara oleh wartawan. (FOTO:ABU)

SB, SAMPIT - Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Umar Kaderi menargetkan paling lambat 2027 semua desa di wilayah Kotim harus sudah memliki puskesmas pembantu (Pustu) dan tenaga kesehatan.

"Kita akan mulai tahun depan. Targetkan dari 2025-2027 itu setiap desa di Kotim ada pustu dan di sana juga terdapat perawat, satu bidan dan dua kader," kata Umar Kaderi, Jumat (17/5/2024).

Disampaikannya bahwasanya, pengadaan pustu tersebut merupakan program dari  Kementerian Kesehatan Rl dalam mengintegrasikan dan merevitalisasikan pelayanan kesehatan primer.

"Tujuan untuk menguatkan pelayanan kesehatan primer dengan mendorong peningkatan upaya promotif dan preventif,” sebut Umar.

Ia menjelaskan, Integrasi ini diselenggarakan dengan mendekatkan pelayanan kesehatan melalui jejaring hingga ke tingkat desa ataupun kelurahan, dengan sasaran seluruh siklus hidup sebagai platformnya, serta memperkuat pemantauan wilayah setempat (PWS) melalui pemantauan dengan dashboard situasi kesehatan per desa juga kelurahan

Lanjutnya, pendekatan tersebut disebut sebagai integrasi pelayanan kesehatan primer, melibatkan Puskesmas, unit pelayanan kesehatan di desa ataupun kelurahan yang disebut juga sebagai Puskesmas Pembantu (Pustu) dan Posyandu. Selanjutnya juga akan melibatkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan primer.

"Sehingga itu nanti akan mendukung transformasi bidang kesehatan, khususnya di integrasi layanan primer. Dari situlah puskesmas kembali ke basicnya,” ungkap Kadinkes Kotim tersebut.

Selain itu, integrasi pelayanan kesehatan primer pada pustu dilakukan dengan memberikan pelayanan kesehatan untuk seluruh sasaran siklus hidup dan memperkuat peran pemberdayaan masyarakat bidang kesehatan di desa maupun kelurahan.

"Jadi promosi kesehatan dan pencegahan penyakitnya kita gencarkan, sehingga kuratifnya yang pengobatannya adalah murni kewenangannya ada di rumah sakit. Dan apabila ada puskesmas yang memang ada rawat inap itu adalah rawat sederhana, kalau akses pelayanan jaraknya jauh antara lokasi dan rumah sakit. Jadi kita benar-benar ingin pencegahan penyakitnya buka ke pengobatannya, tapi pengobatan tetap dilakukan oleh petugas di Puskesmas," tutupnya. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard