Dampak Efisiensi Anggaran, UMKM di Kotim Menjerit
SB, SAMPIT – Efisiensi anggaran yang terjadi secara nasional turut memengaruhi sektor ekonomi lokal, termasuk pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Ketua UMKM Harati Rahmat Noor atau yang akrab disapa Rahmat Kotim menyampaikan, daya beli masyarakat saat ini mengalami penurunan yang berdampak langsung pada omzet pelaku usaha.
"Penurunan penjualan UMKM diperkirakan mencapai 10 hingga 15 persen. Banyak rekan-rekan pelaku usaha yang mengalami kemunduran. Untuk itu, kami terus mendorong pelaku UMKM agar lebih kreatif dan adaptif terhadap kondisi saat ini," kata Rahmat, Rabu (14/5/2025).
Rahmat menekankan pentingnya pelaku UMKM melakukan transformasi penjualan. Di tengah menurunnya minat masyarakat tersebut, strategi seperti jualan jemput bola, sistem mulut ke mulut, serta pemasaran melalui platform digital menjadi pilihan yang semakin relevan.
"Bisa menggunakan strategi minimal lima pesanan, kita antar dengan gratis ongkir. Ini salah satu bentuk strategi jemput bola yang terbukti efektif menjaga kelangsungan usaha," tambahnya.
Dahulu, event bazar UMKM di Kotim bisa digelar hingga 3–4 kali dalam sebulan, namun kini aktivitas tersebut nyaris tidak ada. Galeri UMKM juga dilaporkan sepi pengunjung. Meski begitu, semangat pelaku usaha tidak padam.
Mereka terus mencari celah untuk menciptakan produk baru yang relevan dengan minat pasar. Misalnya menyasar segmen generasi milenial yang tengah gemar dengan tren ngopi santai.
"Kita melihat perkembangan kafe dan gerobak kopi yang menjamur, dari gang-gang kecil hingga jalan raya. Ini bisa menjadi peluang besar bagi UMKM kuliner, misalnya dengan menjual kue-kue ringan sebagai pendamping minum kopi," kata Rahmat.
Dirinya mengapresiasi upaya Pemerintah Daerah, terutama melalui Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (DiskopUKMPerindag), yang dinilai cukup aktif dalam menggaet pelaku usaha untuk berpartisipasi dalam berbagai event.
Namun, efisiensi anggaran yang terjadi secara nasional tetap menjadi tantangan yang nyata.
"Kami melihat kolaborasi sudah cukup maksimal. Namun karena anggaran yang terbatas, kegiatan pelibatan UMKM dalam event juga semakin berkurang," tambahnya.
Melihat situasi ini, dirinya berharap dukungan dari semua pihak agar sektor usaha kecil dapat tetap bertahan, bahkan berkembang, di tengah keterbatasan. Inovasi, sinergi, dan adaptasi terhadap tren pasar menjadi kunci utama untuk mempertahankan eksistensi UMKM di Kotim. (f1/sb)