Lewati ke konten utama
Provinsi

Lonjakan Karhutla Terjadi Sejak Juli 2025, Sumber Air Jadi Kendala Utama

Redaksi 07-08-2025, 09:32 WIB 2 menit baca
Petugas ketika melakukan pemadaman karhutla, baru-baru ini.
Petugas ketika melakukan pemadaman karhutla, baru-baru ini.

SB, PALANGKA RAYA - Kota Palangka Raya kini berada dalam bayang-bayang ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin meluas. Seiring masuknya puncak musim kemarau, intensitas kejadian karhutla meningkat drastis, khususnya sejak Juli 2025.

Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palangka Raya hingga 4 Agustus 2025, tercatat sudah 73 kasus karhutla yang menghanguskan sedikitnya 21,74 hektare lahan di empat kecamatan.

Lonjakan tertinggi terjadi pada Juli, dengan 52 kejadian dan luasan terbakar mencapai 17,59 hektare.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Palangka Raya, Heri Fauzi mengungkapkan, bahwa tren kenaikan ini sudah dipantau sejak awal tahun.

Januari-April masing-masing 1 kejadian (total 4 kejadian), total lahan terbakar 0,59 hektare. Mei 3 kejadian dengan lahan terbakar 1,32 hektare. Juni 5 kejadian dengan lahan terbakar 1,46 hektare

Kemudian pada bulan Juli terdapat 52 kejadian dengan lahan terbakar 17,59 hektare. Dan awal Agustus hingga 4 Agustus ini tercata telah terjadi 9 kejadian dengan lahan terbakar 0,78 hektare.

“Dari lima kecamatan di Kota Palangka Raya, Kecamatan Jekan Raya menjadi wilayah paling terdampak, dengan 45 kejadian karhutla. Disusul Sabangau 22 kejadian, Pahandut 3 kejadian, dan Bukit Batu 3 kejadian. Sementara Rakumpit masih belum tercatat mengalami kebakaran,” katanya, Kamis (7/8/2025).

Peningkatan ini membuat Pemerintah Kota menetapkan status Siaga Darurat Karhutla sejak 15 Juni hingga 31 Agustus 2025. Tim BPBD bersama relawan pun terus disiagakan di lapangan untuk mengantisipasi titik-titik api yang muncul.

“Kami tidak tinggal diam. Pos lapangan (Poslap) sudah didirikan di enam kelurahan yang dinaungi oleh BPBPK Provinsi. Ini adalah langkah taktis untuk mempercepat deteksi dan respons di titik rawan,” jelasnya.

Namun, medan penanganan karhutla tak mudah. Salah satu tantangan utama yang dihadapi tim pemadam adalah keterbatasan sumber air, terutama jika kebakaran terjadi di lokasi yang jauh dari permukiman atau sumber air alami.

“Kemarau membuat banyak sumber air kering. Untuk itu, kami siapkan embung portable dan sumur bor portable sebagai solusi darurat, meski tentu efektivitasnya terbatas di medan berat,” imbuhnya. (rk/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard