SB, PALANGKA RAYA – Yayasan Borneo Nature Indonesia (YBNI), yang berdiri sejak 2016, kembali menyelenggarakan kegiatan tahunan Festival Anak Sabangau (FAS) 2025 di Taman Wisata Sabangau, Kereng Bangkirai, Kota Palangka Raya, pada Minggu (16/11/2025).
FAS merupakan program rutin YBNI di bidang Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) melalui pembinaan selama satu tahun kepada Anak Sabangau dan Sabangau Ranger. Pada festival ini, anak-anak binaan tampil antusias dan percaya diri, menunjukkan hasil pembelajaran mereka di hadapan tamu undangan dan masyarakat.
Tahun ini, FAS mengangkat tema “Kalawa Bara Himba”, yang merekonstruksikan makna “cahaya” dari api kebakaran lahan. Tema tersebut dipilih sebagai simbol agar anak-anak memahami pentingnya menjaga lingkungan demi mencegah terulangnya kebakaran hutan dan lahan.
CEO YBNI, Anton Nurcahyo, menjelaskan bahwa tema “Kalawa Bara Himba” terinspirasi dari peristiwa kebakaran hutan dan lahan pada 2015 silam. Menurutnya, festival ini menjadi pengingat bersama tentang pentingnya pelestarian lingkungan.
“Di sini kita mengingatkan anak-anak bahwa waktu itu pernah terjadi kebakaran hebat. Maka dari itu kita melaksanakan Festival Anak Sabangau, agar mereka paham bahwa menjaga lingkungan sangat penting,” ujarnya.
Anton menambahkan bahwa festival ini juga merupakan bentuk tanggung jawab YBNI dalam menggelorakan kesadaran lingkungan. Tujuannya agar bencana kebakaran hutan dan lahan yang merugikan banyak pihak tidak kembali terjadi.
“Secara tidak langsung anak-anak menjadi sadar bahwa menjaga lingkungan itu penting. YBNI pun terus berupaya menyebarkan informasi serta menyadarkan masyarakat akan pentingnya pelestarian lingkungan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Disbudparpora Kota Palangka Raya, Cecilia Kristina Myra, mengungkapkan bahwa Festival Anak Sabangau menjadi wadah untuk memperlihatkan kaleidoskop aktivitas program klub alam yang dibina YBNI. Festival ini, katanya, bukan sekadar kegiatan hiburan, tetapi perjalanan pembelajaran yang mengenalkan anak-anak pada pelestarian hutan.
“Apa yang dilakukan YBNI tidak hanya berdampak pada pelestarian hutan, tetapi juga pada kualitas pendidikan, karakter anak, serta penguatan budaya lokal. Kota Palangka Raya harus maju bukan hanya dari sisi infrastruktur, tetapi juga dari kesadaran ekosistem, budaya, dan kualitas sumber daya manusianya,” tegasnya.
Festival Anak Sabangau 2025 menjadi momentum penting dalam membentuk generasi muda yang peduli, berpengetahuan, dan berkarakter, sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan Sabangau.
Dalam kegiatan tersebut mereka menampilkan Tarian Giring-giring, Pameran Dokumentasi, Temu Wicara, Pojok Bermain Anak, Membuat Kriya, Penampilan Drama, Cap Tangan dan manasi. (sb)