Larangan Pesta Kembang Api, Omzet Pedagang Petasan Turun Drastis
SB, SAMPIT - Lapak kembang api yang biasanya ramai jelang malam tahun baru, kini tampak lesu. Salah satu pedagang di Kota Sampit, Isma mengaku penjualan menurun drastis, menyusul adanya imbauan agar masyarakat tidak menyalakan kembang api saat pergantian tahun.
"Kalau penjualan untuk tahun ini berkurang, kalau tahun kemarin masih rame. Omesetnya menurun sekitar 60 sampai 70 persen dari tahun sebelumnya," kata Isma, Rabu (31/12/2025).
Ia menjelaskan, biasanya satu minggu sebelum pergantian tahun lapaknya sudah ramai pembeli.
“Omzet turun, modal belum balik. Hasil jualan hanya cukup untuk makan dan bayar sewa,” ujarnya.
Isma menuturkan, jenis kembang api yang dijualnya hanya berskala kecil dan aman untuk anak-anak. Ia tidak menyediakan kembang api dengan daya ledak besar yang biasa digunakan untuk pesta.
“Kalau kembang api yang paling banyak diminati itu jenis kembang sarai untuk anak-anak,” tambahnya.
Meski penjualan sepi, harga kembang api tetap dipertahankan seperti sebelumnya, yakni mulai dari Rp3.000 hingga Rp180.000 per item.
Saat ini, pembeli didominasi warga lokal Sampit. Berbeda dengan momen sebelumnya, di mana pembeli juga datang dari kawasan perkebunan sawit di Kotim.
Rizky mengaku berjualan kembang api hanya bersifat musiman saat momen Tahun Baru dan Ramadan. Sehari-hari, ia bekerja sebagai pengemudi ojek.
“Kalau stok tidak habis, kami simpan di gudang untuk dijual di momen berikutnya. Yang saat ini, sebagian juga stok sisa Ramadan kemarin, lalu ditambah sedikit stok baru,” katanya.
Ia pun mengaku tidak berani menambah stok berlebihan melihat kondisi penjualan yang cenderung sepi.
Rencananya, lapak kembang api tersebut akan dibuka hingga 3 Januari 2026 jika kondisi tetap sepi, dan maksimal sampai 7 Januari 2026 jika ada peningkatan pembeli.
“Kalau ramai bisa sampai 7 Januari, tapi kalau sepi kemungkinan sampai 3 Januari saja,” pungkasnya. (f1/sb)