Banyaknya Titik Hotspot di Kotim Diduga Pembakaran di Sengaja
SB, SAMPIT - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat lonjakan signifikan titik panas atau hotspot sepanjang Januari 2026, yang didominasi oleh kebakaran hutan dan lahan akibat pembakaran lahan secara sengaja.
"Kenyataannya, sebagian besar kebakaran terjadi karena pembakaran yang disengaja, biasanya untuk berladang. Kesadaran ini yang harus kita perbaiki bersama," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim, Multazam, Sabtu (24/1/2026).
Dirinya memberikan gambaran bahwa faktor manusia menjadi penyumbang utama tingginya angka kebakaran di wilayah tersebut. Ini ia sampaikan saat memimpin rapat koordinasi penanganan karhutla, Kamis (22 Januari 2026).
"Dari data kami menunjukkan, selama Januari 2026 tercatat sebanyak 61 hotspot di Kotim. Angka ini melonjak tajam jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya," ujarnya .
la juga mengingatkan bahwa beberapa kecamatan di Kotim memiliki tingkat kerawanan tinggi karena kondisi geografis berupa rawa dan gambut tebal.
Wilayah-wilayah tersebut antara lain Teluk Sampit, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Mentawa Baru Ketapang, Baamang, Kota Besi dan Cempaga.
"Kalau sudah terbakar di daerah rawa, pemadamannya jauh lebih sulit. Kita tidak ingin pengalaman pahit seperti tahun 2015, 2019, dan 2023 terulang," ujarnya.
Dalam proses penanganan, BPBD menghadapi kendala akses ke lokasi kebakaran yang sulit dijangkau kendaraan darat. Selain itu, kondisi muka air tanah yang menurun drastis akibat musim panas berkepanjangan juga menghambat upaya pemadaman.
"Ada lokasi yang sama sekali tidak punya akses jalan. Ada juga yang jalannya ada, tapi air permukaan sudah kering karena panas panjang. Ini sangat menyulitkan," jelas Multazam.
Untuk mengatasi kendala tersebut, penggunaan bantuan pemadaman udara menjadi pilihan terakhir yang dipertimbangkan. Namun, hingga kini langkah itu belum diambil karena biaya operasionalnya yang sangat tinggi.
"Kalau sudah pakai satgas udara, biayanya tidak sedikit. Itu jadi pertimbangan serius bagi kami," tambahnya.
BPBD Kotim kembali mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan membakar. Menurut Multazam, pemerintah tidak bisa bekerja sendirian tanpa kesadaran dan dukungan aktif dari warga dalam menjaga kelestarian lingkungan serta pencegahan kebakaran hutan dan lahan.
"Kita semua harus bertanggung jawab menjaga lingkungan, karena pencegahan karhutla bukan hanya tugas pemerintah tapi tanggung jawab bersama," tutupnya. (f1/SB)