Penetapan Puasa, PBNU Tegaskan Tetap Konsisten dengan Rukyatul Hilal
SB, PALANGKA RAYA - Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) akan menentukan awal Ramadan 1447 Hijriah setelah melakukan rukyatul hilal pada 17 Februari 2026. Jika hilal terlihat, maka puasa dimulai keesokan harinya. Namun jika tidak terlihat, bulan Sya’ban akan digenapkan menjadi 30 hari.
Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf mengatakan, Nahdlatul Ulama tetap konsisten menggunakan metode rukyat atau melihat langsung hilal untuk menetapkan awal bulan hijriah.
“Nanti kita lihat dulu tanggal 17 Februari, apakah hilalnya terlihat atau tidak. Kalau terlihat, besoknya kita sudah mulai puasa. Kalau tidak, berarti Sya’ban digenapkan 30 hari,” ujarnya saat menghadiri Konferensi Wilayah XIII PW-NU Kalteng di Aula Jayang Tingang, Kantor Gubernur Kalteng, Sabtu (14/2/2026) sore.
Ia menjelaskan, cara tersebut sudah menjadi pedoman NU sejak lama. Artinya, penentuan awal Ramadan dilakukan dengan melihat langsung posisi hilal, bukan hanya berdasarkan perhitungan.
Disisi lain, Muhammadiyah lebih dulu menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu 18 Februari 2026. Penetapan itu menggunakan metode hisab atau perhitungan astronomi melalui sistem Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Menanggapi kemungkinan adanya perbedaan awal puasa, Yahya menilai hal tersebut bukan persoalan baru di tengah masyarakat.
“Sudah puluhan tahun seperti ini dan tidak ada masalah. Masyarakat sudah terbiasa,” ucapnya.
Yahya juga mengajak umat islam untuk tetap menghormati jika kedepan ada perbedaan penetapan awal bulan Suci Ramadhan.
Menurutnya, perbedaan metode dalam menentukan awal bulan merupakan bagian dari dinamika pemikiran Islam yang sudah berlangsung lama dan tidak perlu dipersoalkan secara berlebihan.
Selain itu, Ketua Umum PBNU sekaligus mantan juru bicara Presiden ke-4 Gus Dur ini juga menambahkan bahwa NU akan selalu hadir di tengah-tengah kebutuhan hajat masyarakat dan menyedikan hikmah layanan untuk masyarakat. (ij/sb)