Inflasi Kotim Naik Ramadan, BPS Catat Tertinggi Dalam Tiga Tahun
SB, SAMPIT - Menjelang Ramadan dan Idul Fitri, inflasi di Kota Sampit kembali menunjukkan tren peningkatan. Pada 2025, angka inflasi tercatat sebagai yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir, menandakan momentum keagamaan tahunan tidak hanya berdampak secara sosial, tetapi juga memberi tekanan ekonomi yang signifikan.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kotawaringin Timur, Eddy Surahman, mengatakan dinamika tersebut tercermin dalam data Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Sampit periode 2023–2026.
“Berdasarkan tren inflasi bulanan atau month to month (m-to-m), lonjakan harga paling sering terjadi menjelang Ramadan dan Idul Fitri. Pada 2025, inflasi menjelang hari besar keagamaan menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir,” ujar Eddy, Sabtu (21/2/2026).
Ia menjelaskan, secara year on year (yoy), inflasi di Kotim pada 2024 relatif terkendali di kisaran 1–2 persen. Namun pada 2025 terjadi peningkatan signifikan hingga mendekati 3 persen. Sementara pada awal 2026, tekanan harga masih berada di atas 2 persen.
“Artinya, tekanan harga tidak lagi sekadar fluktuasi biasa, tetapi cenderung menguat dibanding tahun sebelumnya,” tegasnya.
Menurut Eddy, lonjakan harga pangan menjelang Ramadan merupakan pola yang berulang setiap tahun. Peningkatan konsumsi rumah tangga menjadi faktor utama pendorong kenaikan harga.
“Ramadan identik dengan peningkatan konsumsi rumah tangga, mulai dari kebutuhan berbuka dan sahur hingga persiapan Lebaran, mudik, dan pemberian hadiah. Ketika permintaan meningkat dalam waktu bersamaan, harga pun terdorong naik,” jelasnya.
BPS mencatat, komoditas bahan pangan menjadi penyumbang utama inflasi jelang hari besar keagamaan. Kondisi ini memerlukan perhatian bersama, baik dari pemerintah daerah maupun pelaku usaha, guna menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat selama Ramadan hingga Idul Fitri. (f1/sb)