Lewati ke konten utama
Provinsi

Karhutla Mulai Mengintai Kotim, BPBD Ingatkan Ancaman Kebakaran dan Krisis Air Bersih

Redaksi 27-03-2026, 11:23 WIB 2 menit baca
Kepala BPBD Kotim, Multazam
Kepala BPBD Kotim, Multazam

SB, SAMPIT – Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Multazam, mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai meningkat, khususnya di wilayah selatan Kotim, seiring kondisi cuaca yang kian kering.

Menurutnya, vegetasi seperti gulma dan rumput liar saat ini sudah sangat mudah terbakar, sehingga meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.

“Di wilayah selatan Kotim, kondisi tanaman sudah kering dan sangat rawan terbakar,” ujarnya, Jumat (27/3/2026).

Dalam beberapa hari terakhir, BPBD mencatat adanya peningkatan titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah. Bahkan, kejadian kebakaran juga mulai terjadi dan masih dalam penanganan petugas.

“Kemarin terpantau lima titik hotspot, hari ini bertambah satu titik. Selain itu, kemarin terjadi dua kali kebakaran, dan hari ini masih dalam proses pemadaman,” jelasnya.

Salah satu lokasi kebakaran berada di wilayah Bengkuang Mahmud, dengan jarak sekitar 4,5 kilometer dari jalan provinsi. Kondisi ini menyulitkan akses tim pemadam, sehingga harus menggunakan sistem estafet untuk menjangkau lokasi.

“Tim menggunakan kendaraan roda empat, lalu dilanjutkan roda dua, hingga akhirnya pemadaman dilakukan dengan mesin portable,” ungkapnya.

BPBD memperkirakan luas area terdampak kebakaran mencapai sekitar 4 hingga 5 meter. Meski tidak terlalu luas, kondisi ini menjadi sinyal awal meningkatnya ancaman karhutla di wilayah tersebut.

Multazam menyebutkan, berdasarkan sejumlah indikator, Kotim saat ini mulai memasuki status siaga karhutla. Namun, pihaknya masih menunggu satu parameter penting, yakni kondisi tinggi muka air tanah.

“Kita sebenarnya sudah mengarah ke status siaga. Tinggal melihat apakah muka air tanah terus menurun atau tidak,” katanya.

Ia menambahkan, hujan yang sempat turun pada 17 Maret lalu memang sempat memperbaiki kondisi, namun belum merata di seluruh wilayah.

Selain karhutla, BPBD juga mewaspadai ancaman kekeringan yang berpotensi berdampak pada ketersediaan air bersih bagi masyarakat, terutama di wilayah selatan yang belum memiliki sistem penyediaan air minum (SPAM) yang memadai.

“Kalau untuk tanaman mungkin masih bisa bertahan, tapi untuk kebutuhan air bersih masyarakat ini yang menjadi perhatian serius,” tuturnya.

Distribusi air bersih di beberapa dusun, lanjutnya, masih dilakukan secara manual. Kondisi tersebut berisiko menimbulkan masalah kesehatan jika kualitas air tidak memenuhi standar.

Menghadapi musim kemarau yang diprediksi panjang dan kering, BPBD mulai melakukan berbagai langkah antisipasi, termasuk menyiapkan peralatan pemadaman. Namun, diakui masih terdapat keterbatasan sarana, sebagian di antaranya sudah usang.

“Kami berupaya memaksimalkan yang ada, sekaligus menggandeng pihak ketiga untuk membantu penanganan di lapangan,” katanya.

Selain itu, BPBD juga mengantisipasi potensi intrusi air laut yang dapat memengaruhi kualitas air di Sungai Mentaya, terutama jika curah hujan terus menurun.

“Jika tidak ada hujan, air laut bisa masuk ke Sungai Mentaya hingga menyebabkan air menjadi asin di beberapa titik. Ini juga menjadi perhatian kami,” pungkasnya. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard