LOGO HPN 2023
SB, JAKARTA - Setiap tanggal 9 Februari diperingati Hari Pers Nasional (HPN) untuk Save the Children mengapresiasi seluruh langkah jurnalis di Indonesia, terutama dalam upaya melakukan peliputan ramah anak dan pemberitaan yang berpihak pada anak.
Dalam rilis tertulisnya yang diterima Seputar Borneo.com Sabtu 11/2/2023 Chief of Advocacy, Campaign, Communication, and Media – Save the Children Indonesia Troy Pantouw mengatakan, saat ini peran jurnalisme dan media massa sangat krusial untuk menangkal informasi-informasi bohong yang beredar.
"Apalagi seiring menjamurnya platform media sosial, di mana semua orang dapat membagikan kisah, informasi, dan mengabarkan situasi. Sejak 2021, Save the Children sebagai organisasi yang bergerak dalam pemenuhan hak anak, aktif mengajak jurnalis dan organisasi jurnalis untuk meningkatkan kapasitas dalam pemberitaan ramah anak," tuturnya.
Save the Children lanjut Troy, juga masih aktif membangun komunitas jurnalis di berbagai provinsi diantaranya (Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur) yang bernama “Jurnalis Sahabat Anak”. Para jurnalis dan kontributor yang tergabung dalam komunitas ini terbagi dalam berbagai tier media–tidak hanya media nasional tier 1, tetapi juga media-media lokal yang berpengaruh besar di wilayahnya.
“Kami bekerja sama dengan para jurnalis dan expert media massa dalam menyelenggarakan workshop untuk jurnalis-jurnalis di daerah. Fokus kami agar lebih banyak lagi jurnalis yang mendapat kapasitas melakukan peliputan ramah anak, sehingga menghasilkan pemberitaan yang berpihak pada anak,” tegas Troy Pantouw.
Dia menjelaskan, salah satu materi yang sering jadi bahan diskusi jurnalis di workshop adalah Kebijakan Keselamatan Anak dalam Kerja-Kerja Komunikasi dan Media, salah satu materinya perihal Triangle of Risks: Nama, Foto, Lokasi. Di mana peserta workshop diberikan studi kasus risiko-risiko yang dapat menimpa anak dan keluarganya jika salah satu atau bahkan semua aspek Triangle of Risks tersebut dimuat dalam pemberitaan. Tak hanya itu, materi lain yang tak kalah penting juga seputar kebijakan dan Undang-Undang Pers.
"Setelah melakukan workshop beberapa kali, Save the Children juga mengajak jurnalis untuk melakukan kunjungan media, baik di dalam maupun di luar provinsi peserta. Salah satu praktik baik yang kami temukan, yaitu Viqi, kontributor Detik.com di NTB, yang menuliskan cerita Minha sebagai orang muda yang berjuang mencegah perkawinan anak di desanya yang terkenal sebagai desa PMI (Pekerja Migran Indonesia)," ungkapnya.
Dia berharap, ilmu-ilmu yang didapatkan saat workshop tidak hanya berhenti di peserta saja, tetapi para peserta juga bisa menyebarkannya melalui forum, atau pos-pos jurnalis di lapangan. Sehingga lebih banyak lagi karya jurnalistik yang mengedepankan aspek perlindungan anak dan berpihak pada anak. (mda/rilis)