seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Ikon Budaya Terabaikan, Pemkab Kotim Siapkan Pembenahan Taman Miniatur Sampit

by Redaksi - Tanggal 14-04-2026,   jam 10:09:29
Rumah Betang di taman miniatur Kotim. (FOTO:INTERNET) Rumah Betang di taman miniatur Kotim. (FOTO:INTERNET)

SB, SAMPIT – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) mulai menyiapkan langkah strategis untuk membenahi kawasan Taman Miniatur Budaya di Sampit yang kondisinya kini dinilai memprihatinkan.

Kepala Disbudpar Kotim, Ramadansyah, menegaskan bahwa penataan kawasan akan dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kemampuan anggaran daerah. Meski demikian, ia memastikan upaya awal tetap menjadi prioritas dalam masa kepemimpinannya.

“Penataan taman miniatur budaya akan segera kita lakukan secara bertahap. Harapannya selama saya menjabat, penanganan awal sudah bisa dimulai dengan anggaran yang tersedia,” ujarnya, Selasa (14/4/2026).

Kondisi kawasan saat ini memang cukup memprihatinkan. Sejumlah bangunan tampak mengalami kerusakan berat, bahkan sebagian terlihat terbengkalai tanpa perawatan. Area taman pun dipenuhi semak belukar dan rumput liar, sehingga mengurangi nilai estetika dan fungsi kawasan sebagai destinasi budaya.

Salah satu bangunan yang mengalami kerusakan paling parah adalah Rumah Betang ikon penting dalam budaya lokal. Struktur bangunan berbahan kayu tersebut dinilai sudah tidak layak untuk direhabilitasi.

“Untuk Rumah Betang kondisinya sudah rusak berat. Banyak bagian kayu yang hancur, sehingga opsi terbaik adalah membangun ulang,” tegas Ramadansyah.

Terkait rencana pembangunan ulang, Disbudpar masih mengkaji material yang akan digunakan. Selain kayu sebagai bahan tradisional, opsi penggunaan beton dengan desain menyerupai bentuk asli juga tengah dipertimbangkan, demi ketahanan jangka panjang.

Namun, keterbatasan anggaran menjadi tantangan utama dalam percepatan revitalisasi kawasan tersebut. Oleh karena itu, Disbudpar membuka peluang kolaborasi dengan pihak ketiga, termasuk sektor swasta.

“Jika anggaran tidak mencukupi, kami akan menggandeng pihak swasta agar bersama-sama peduli terhadap keberadaan taman miniatur budaya ini,” jelasnya.

Ramadansyah menekankan bahwa Taman Miniatur Budaya bukan sekadar ruang publik, melainkan simbol keberagaman budaya masyarakat Kotim yang harus dijaga bersama.

“Miniatur budaya ini adalah representasi kebhinekaan di Kotim. Sudah seharusnya kita rawat dan lestarikan sebagai warisan budaya daerah,” pungkasnya. (f1/sb)