Tampak antrean panjang di SPBU Jalan Jenderal Sudirman Sampit. (FOTO:ISTIMEWA)
SB, SAMPIT - Isu kelangkaan bahan bakar jenis solar di wilayah Sampit dibantah oleh pihak Pertamina.
Kepala Pengawas Depot Pertamina Sampit, Afif, menegaskan bahwa stok dan distribusi masih dalam kondisi aman, bahkan cenderung melebihi permintaan.
“Isu kelangkaan itu sebenarnya tidak benar. Stok aman, bahkan pengiriman kita over dari permintaan, tetap kita layani,” ujar Afif, Senin (20/4/2026).
Ia menjelaskan, antrean panjang yang terjadi di sejumlah SPBU bukan disebabkan oleh keterbatasan pasokan, melainkan karena adanya perbedaan harga yang cukup tinggi antara solar industri dan solar subsidi (dexlite).
“Ada selisih harga industri yang cukup tinggi, sekitar Rp 30.000 sampai Rp 34.000, dibandingkan harga dexlite. Ini yang menyebabkan konsumen industri beralih ke SPBU, sehingga terjadi antrean,” jelasnya.
Menurutnya, secara aturan, konsumen industri tidak diperbolehkan membeli BBM subsidi di SPBU karena peruntukannya khusus bagi masyarakat umum sedangkan industri punya jalur distribusi sendiri.
Terkait kuota, Afif memastikan bahwa distribusi BBM ke SPBU telah diatur oleh Dirjen Migas dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing wilayah.
“Untuk SPBU, kuotanya berbeda-beda tergantung tingkat penjualan. Tapi secara total untuk wilayah Kotim, Seruyan, dan Katingan berkisar antara 140 hingga 180 kiloliter per hari untuk dexlite,” ungkapnya.
Sementara itu, kebutuhan BBM untuk sektor industri bersifat fluktuatif, tergantung aktivitas masing-masing perusahaan.
“Kalau industri itu berbeda-beda tiap konsumen. Tapi secara rata-rata bisa mencapai 500 sampai 600 kiloliter per hari,” tambahnya.
Afif kembali menegaskan bahwa tidak ada kondisi stok kritis ataupun kekosongan BBM di SPBU. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak terpancing isu yang tidak benar.
“Tidak ada stok kosong. Memang permintaan saja yang meningkat karena faktor harga tadi,” pungkasnya. (f1/sb)