Lewati ke konten utama
Kotawaringin Timur

Dari Emas Hijau ke Pendidikan Alam, Kotim Jadi Lokasi SD Berbasis Lingkungan

Redaksi 25-04-2026, 11:41 WIB 1 menit baca
Peletakan batu pertama pembangunan sekolah alam di Sampit. (FOTO: SEPUTARBORNEO)
Peletakan batu pertama pembangunan sekolah alam di Sampit. (FOTO: SEPUTARBORNEO)

SB, SAMPIT – Ketua Yayasan Pelita Bumi Khatulistiwa, Ida Oetari, mengungkapkan alasan pihaknya memilih Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), sebagai lokasi pembangunan sekolah dasar (SD) alam yang berlokasi di Jalan Jendral Sudirman, Kota Sampit, Kabupaten Kotim. 

Ia menjelaskan, keputusan tersebut diambil setelah melalui berbagai pertimbangan dan diskusi panjang di internal yayasan, dengan membandingkan sejumlah daerah di Kalimantan Tengah.

“Kami memilih Kota Sampit ini berdasarkan banyak faktor. Waktu itu kami mempertimbangkan antara Palangka Raya, Kotawaringin Barat, dan Kotawaringin Timur. Akhirnya kami memilih Kotim karena beberapa akses yang mendukung,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).

Selain faktor akses, Ida juga menyinggung identitas Kotim yang dulu dikenal dengan sebutan “emas hijau”, yang menjadi salah satu inspirasi yayasan dalam mengembangkan konsep pendidikan berbasis alam.

“Kami ingin mengembalikan itu. Tidak muluk-muluk, yang penting bagaimana anak-anak sejak usia dini dikuatkan karakternya untuk mencintai alam,” tuturnya.

Menurutnya, konsep SD alam yang akan dibangun tidak hanya menekankan kecintaan terhadap lingkungan, tetapi juga membentuk pola pikir kritis dan sikap inovatif pada anak.

Dalam penerapan kurikulum, yayasan akan bekerja sama dengan lembaga pendidikan dari Surabaya untuk merancang sistem pembelajaran yang sesuai.

“Kami bekerja sama dengan Al-Hikmah Surabaya untuk mendesain kurikulum, guna membangun karakter, berpikir kritis, dan inovatif sejak dini,” katanya.

Selain itu, pembelajaran bahasa Inggris juga akan diperkenalkan sebagai bagian dari kesiapan menghadapi era global, tanpa meninggalkan kearifan lokal Kalimantan Tengah.

“Kami memberikan dasar-dasar bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Namun kami juga tetap mempertahankan karakter lokal sebagai bumi khatulistiwa,” pungkasnya. (f1/sb)

Berita Terkait

Ruang Iklan Leaderboard