270 Siswa Ikuti Seleksi Sekolah Rakyat
SB, SAMPIT - Dinas Sosial Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai melakukan penjaringan calon siswa baru untuk Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 55 tahun ajaran 2026/2027. Program pendidikan gratis berbasis asrama itu ditujukan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.
Kepala Dinas Sosial Kotim, Hawianan, mengatakan total kuota yang disiapkan mencapai 270 siswa untuk tiga jenjang pendidikan.
“Target rekrutmen siswa baru terdiri dari SRD 90 siswa, SRMP 90 siswa, dan SRMA 90 siswa, jadi totalnya 270 siswa,” kata Hawianan, Sabtu (16/5/2026).
Ia menjelaskan, penjaringan diprioritaskan bagi anak-anak dari keluarga miskin kategori desil 1 dan 2. Proses seleksi dilakukan melalui pendataan langsung berbasis Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dan Program Keluarga Harapan (PKH).
Saat ini, pendamping sosial PKH masih melakukan verifikasi terhadap calon peserta didik. Masyarakat yang mengetahui adanya anak dari keluarga kurang mampu dan belum bersekolah juga diminta segera melapor kepada pihak terkait.
“Kalau ada masyarakat mengetahui anak dari keluarga miskin dan ingin sekolah, bisa melapor. Nanti PKH dan BPS akan memverifikasi, jika memenuhi syarat bisa masuk Sekolah Rakyat,” jelasnya.
Hawianan menegaskan, sistem penerimaan Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah umum karena dilakukan secara ketat agar program tersebut benar-benar tepat sasaran.
Selain itu, seluruh siswa nantinya diwajibkan tinggal di asrama karena Sekolah Rakyat menerapkan sistem pendidikan terpadu berbasis boarding school.
Pemerintah juga akan menanggung seluruh kebutuhan siswa secara gratis, mulai dari biaya pendidikan, seragam, perlengkapan sekolah hingga konsumsi harian.
“Selain gratis biaya sekolah, siswa juga mendapat makan tiga kali sehari dan snack dua kali sehari. Tenaga pengajarnya juga profesional dan bersertifikasi,” tambahnya.
Sementara itu, pembangunan gedung permanen Sekolah Rakyat di kawasan Wengga Metropolitan masih terus berlangsung. Progres pembangunan saat ini disebut telah mencapai sekitar 42 persen.
“Targetnya tahun ajaran 2026/2027 sudah bisa digunakan. Kendala terbesar pembangunan di daerah kita memang pondasi karena wilayah gambut,” ucap Hawianan.
Ia menambahkan, pembangunan ruang kelas dan asrama ditargetkan selesai pada Juni 2026. Sedangkan fasilitas pendukung lainnya, seperti lapangan olahraga, dijadwalkan rampung beberapa bulan berikutnya. (FOTO:ISTIMEWA)