seputarborneo.news@gmail.com

082253082672

Ruang Iklan Tersedia

Diduga Diracun, Ribuan Anak Ikan Mati di Perairan Sebungsu

by Redaksi - Tanggal 31-08-2026,   jam 13:55:00
Diduga Diracun, Ribuan Anak Ikan Mati di Perairan Sebungsu Diduga Diracun, Ribuan Anak Ikan Mati di Perairan Sebungsu

SB, SAMPIT – Ribuan anak ikan ditemukan mati dan mengapung di perairan Desa Sebungsu, Kecamatan Tualan Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Kematian ikan tersebut diduga akibat praktik penangkapan ikan menggunakan racun.

Temuan itu diketahui Adytia, seorang penghobi mancing, saat berada di lokasi pada Minggu (30/8/2026). Ia kemudian merekam kondisi perairan yang dipenuhi bangkai ikan berukuran kecil dan membagikannya ke media sosial.

Adytia menyayangkan dugaan penggunaan racun untuk menangkap ikan karena dinilai dapat merusak ekosistem. Menurutnya, praktik tersebut bukan hanya membunuh ikan yang menjadi target, tetapi juga anak-anak ikan dan biota lainnya.

“Sayang sekali, ini akibat ulah manusia. Serakah,” kata Adytia.

Ia mengatakan, perairan Sebungsu selama ini dikenal sebagai salah satu lokasi favorit pemancing karena banyak terdapat ikan gabus berukuran besar. Jika penangkapan menggunakan racun terus dilakukan, populasi ikan dikhawatirkan semakin menurun.

“Di sini ikan gabus besar-besar. Kalau terus diracun, lama-lama bisa musnah. Nanti enggak ada lagi tempat mancing yang seasyik di sini,” ujarnya.

Di sekitar lokasi juga terlihat bekas galian alat berat di pinggir jalan. Namun, Adytia belum mengetahui apakah galian tersebut berkaitan dengan kematian ikan.

“Itu semacam bekas galian alat berat di pinggir jalan. Kayaknya enggak kena limbah. Memang dari waktu itu daerah sini sudah banyak tempat yang diracun,” ungkapnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim, Marjuki, mengaku belum menerima laporan mengenai temuan tersebut. Ia meminta masyarakat segera melapor jika menemukan dugaan pencemaran agar petugas bisa melakukan pengecekan langsung.

“Jika ada pencemaran segera laporkan. Kami perlu waktu kejadian yang jelas agar bisa dicek,” tegas Marjuki.

Menurutnya, laporan masyarakat sangat penting untuk memastikan penyebab kematian ikan sekaligus mencegah kerusakan lingkungan semakin meluas. (f1/sb)