Menhut Pastikan Penebalan Tim Penyelam, 25 Personel Dikerahkan Evakuasi Helikopter MI-17 di Seruyan
SB, SAMPIT - Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni memastikan proses evakuasi helikopter MI-17 milik Penerbangan TNI Angkatan Darat (Penerbad) yang jatuh di perairan kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, terus dimaksimalkan.
Pemerintah menambah kekuatan personel penyelam untuk mengevakuasi satu korban yang hingga kini masih belum berhasil ditemukan dan diduga masih terjebak di dalam badan helikopter.Hal tersebut disampaikan Raja Juli Antoni saat menyambangi Bandara Iskandar, Pangkalan Bun, Kamis (5/11/2026).
"Berdasarkan hasil koordinasi bersama Pangdam, Kapolda, Gubernur Kalimantan Tengah, serta jajaran terkait, akan ada penambahan sekitar 19 penyelam dari berbagai unsur", ujarnya
Penambahan tersebut terdiri dari lima penyelam Basarnas, tujuh penyelam TNI Angkatan Laut, dan dua penyelam lokal. Jumlah tersebut akan memperkuat enam penyelam yang sebelumnya telah diterjunkan, sehingga total personel penyelam diperkirakan mencapai 25 orang.
"Kita sangat berduka atas kecelakaan yang terjadi. Helikopter MI-17 ini digunakan untuk mendukung upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan melalui water bombing. Ini merupakan musibah yang benar-benar tidak kita harapkan," ujar Raja Juli.
Ia mengungkapkan, dirinya telah menyampaikan perkembangan kejadian tersebut kepada Presiden. Presiden juga menyampaikan belasungkawa mendalam sekaligus meminta agar proses evakuasi dimaksimalkan.
Menurutnya, proses evakuasi menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Salah satunya kondisi perairan yang berlumpur dan memiliki jarak pandang sangat terbatas sehingga menyulitkan penyelam mengidentifikasi posisi korban maupun bagian helikopter. Selain itu, gelombang laut yang cukup besar turut menjadi tantangan dalam proses penyelaman.
"Memang visibility bagi para penyelam sangat terbatas. Airnya sangat kotor dan berlumpur, sehingga kemarin ketika dicoba masuk, sama sekali tidak bisa melihat. Mereka hanya bisa meraba," jelasnya.
Untuk mempermudah proses evakuasi, tim juga telah menyiapkan tugboat guna menarik badan helikopter ke tepi. Namun, posisi helikopter yang masuk ke dalam lumpur membuat upaya penarikan tidak mudah dilakukan.
Raja Juli menyebut, helikopter tersebut dalam posisi seperti menukik dan tertanam di lumpur sehingga sulit digerakkan. Selain tugboat, upaya penarikan menggunakan helikopter juga telah dicoba. Pemerintah daerah turut menyiapkan crane untuk mendukung proses pengangkatan.
"Kita sudah memiliki gambar dan video MI-17 ini. Jadi, para penyelam sudah diberikan pengetahuan mengenai bagian-bagian helikopter, termasuk pintu yang bisa dibuka, pintu darurat, serta cara melepaskan bagian tertentu untuk mempermudah evakuasi," katanya.
Ia berharap, dengan penambahan personel dan dukungan peralatan, satu korban yang masih belum ditemukan dapat segera dievakuasi. Badan helikopter juga diharapkan bisa ditarik ke darat.
Dalam kesempatan itu, Raja Juli turut menyampaikan apresiasi kepada pemerintah daerah, TNI-Polri, Basarnas, relawan, dan masyarakat adat yang telah membantu proses pencarian dan evakuasi. (f1/sb)